INAIS Hadir Rapat Monitoring dan Evaluasi YWSK

Bogor, Dalam masa pandemi Covid – 19 yang tak kunjung mereda masyarakat dituntut untuk menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan langkah – langkah 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan menggunakan masker.

Yayasan Wakaf Sahid Khusnul Khotimah menyelenggarakan rapat monitoring dan evaluasi bersama jajaran pimpinan Yayasan Sahid Jaya hadir sebagai Ketua Umum YSJ Bp. Dr. Ir. H. Hariyadi B Soekamdani, MM, Dewan Pembina Ibu Hj. Sri Bimastuti Handayani Soekamdani dan Direktur Eksekutif Bp. Drs. H. Ahmad Sadjid Zen, MM, hadir pula dari INAIS yaitu Rektor INAIS Bp. Imdadun Rahmat beserta jajarannya, dari Pondok Pesantren Modern Sahid yaitu Pimpinan Harian Bp. Mohammad Luqman Kasno, S.Pd.I beserta jajaran dengan mentaati protocol kesehatan yang berlaku, Kamis, (22/10/20).

Monitoring dan Evaluasi ini di pimpin langsung oleh Ketua Umum YWSK yaitu Bp. Hariyadi BS yang bertempat di gedung Taman Sahid Jaya dan dihadiri oleh perwakilan lembaga yaitu dari Institute Agama Islam Sahid dan Pondok Pesantren Modern Sahid. Rapat kali ini mendengarkan laporan dari lembaga-lembaga dibawah Yayasan Sahid Jaya yang pertama pelaporan dilakukan oleh Lembaga Pondok Pesantren Modern Sahid membahas tentang optimalisasi pendidikan, pelayanan dan pengembangan Pondok Pesantren sekaligus pelaporan keuangan. Yang kedua Institute Agama Islam Sahid membahas tentang Bisnis Planing INAIS satu tahun kedepan.

INAIS Menyelenggarakan Taaruf Kampus Tahun 2020 Semi Daring

Bogor, Institute Agama Islam Sahid Bogor menyelenggarakan taaruf kampus mahasiswa baru (TAFKA) dilaksanakan semi daring selama dua hari yang bertempat di Bale Edi Raya Sabtu, (16/9/20). Hari pertama dilakukan melalui daring yang dihadiri oleh rektor INAIS dan beberapa pejabat struktural. Dalam kesempatan itu rektor memberikan sambutan dan pembekalan tentang ciri dan karakter akademisi, rektor mendorong […]

Islamic Economic Behavior Vs Capitalism Behavior (Oleh : Hasbi Ash Shiddieqy, SE, MESy)

Oleh : Hasbi Ash Shiddieqy, SE, MESy
Kaprodi Manajemen Bisnis Syariah

Agama Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala hal dalam kehidupan termasuk dalam masalah ekonomi atau jual beli. Banyak sekali perilaku yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang memberikan gambaran sebagaimana sikap atau kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari – hari yang telah membentuk hukum – hukum ekonomi dalam perspektif syariah.

Adapun behavior yang berkaitan dengan Ekonomi yang telah dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat adalah sebagai berikut : “Saling memberi (hadiah) lah kalian agar kalian menjadi saling mengasihi”. (Siroh Nabawiyah). “Sesungguhnya Allah lah yang menggerakkan hati seorang penjual untuk menjual barangnya dan menggerakkan hati seorang pembeli untuk membeli barang tersebut”. Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan terlebih lagi pada bulan Ramadhan, karena sangat dermawannya harta ditangan Rasulullah seperti debu yang tertiup angin. Ketika sahabat Umar r.a. pernah menjumpai Rasulullah SAW bangun dari tempat tidurnya, Umar pun menangis melihat Rasulullah SAW karena dilihatnya banyak bekas – bekas tikar yang kasar ditubuh beliau yang mulia, Umar berkata kepada Rasulullah SAW Sesungguhhnya Engkau adalah orang yang mulia sedangkan Raja Romawi dan Persia itu hina, kenapa mereka tidur diatas Kasur yang empuk. Maka Rasulullah SAW pun bersabda biarkanlah kebaikan mereka dicepatkan didunia sedangkan kita memiliki kebaikan di akhirat.

Begitupula dengan sahabat Nabi Muhammad SAW yang mulia yaitu Abu Bakar r.a. sampai rela menyerahkan seluruh hartanya untuk disedekahkan dijalan Allah SWT. Sahabat Umar r.a . pun juga demikian memiliki kebiasaan berinfaq setiap bulannya sekitar 8 Milyar. Sahabat Utsman bin Affan r.a. pun menginfakkan hartanya untuk membeli sebuah sumur seharga 2000 dirham sehingga menjadi kekal hartanya. Sahabat Ali r.a. pun juga demikian ketika menjadi khalifah beliau membagi-bagikan seluruh hartanya untuk rakyatnya sehingga yang tersisa untuk keluarganya hanya makanan yang sudah busuk. Begitulah sifat dan perilaku Nabi dan Sahabat sehingga terbentuklah sistem ekonomi yang stabil dan jurang antara orang yang paling kaya dengan yang paling miskin tidak terlalu jauh. Hal ini terbukti pada saat zaman Umar r.a. pada saat itu daerah yaman yang paling miskin saja merasa kesulitan dalam menyalurkan dana zakat.

Berdasarkan hal tersebut. Dr. Ali Sakti membuat sebuah gambar perumpamaan memgenai hal tersebut bahwa ada istilah Need, Wants, dan Factor of Production. Need adalah kebutuhan nyata sebagai seorang manusia, contoh saja sebagai manusia kita secara wajar biasanya makan satu piring satu kali makan atau artinya adalah kebutuhan riil yang dibutuhkan oleh tubuh. Sedangkan wants adalah keinginan yang tidak ada batasnya yang tidak dapat ditampung oleh tubuh kita sendiri. Sedangkan factor of production adalah segala sumber daya alam yang ada yang dapat dimanfaatkan.Berdasarkan hal tersebut. Dr. Ali Sakti membuat sebuah gambar perumpamaan memgenai hal tersebut bahwa ada istilah Need, Wants, dan Factor of Production. Need adalah kebutuhan nyata sebagai seorang manusia, contoh saja sebagai manusia kita secara wajar biasanya makan satu piring satu kali makan atau artinya adalah kebutuhan riil yang dibutuhkan oleh tubuh. Sedangkan wants adalah keinginan yang tidak ada batasnya yang tidak dapat ditampung oleh tubuh kita sendiri. Sedangkan factor of production adalah segala sumber daya alam yang ada yang dapat dimanfaatkan.

Berdasarkan gambar 1.1 diatas menggambarkan bagaimana Islamic economics behavior pada seorang muslim akan hidup berdasarkan pada Needs nya sehingga dia tidak akan menabrak norma – norma syariah dan sumber – sumber factor produksi tidak akan habis terkuras.

Islamic Economics behavior juga akan membentuk titik permasalahan ekonomi secara tepat, menurut Dr. Ali Sakti yang menjadi permasalahan ekonomi adalah pendistribusian sumber factor produksi, ketika sumber factor produksi terdistribusi dengan baik tanpa adanya distorsi pasar seperti penipuan, penimbunan, dan penggelapan maka permasalahan ekonomi tidak akan pernah ada. Begitu pula pada prinsip – prinsip ekonomi Islam, menurut Dr. Ali Sakti prinsip – prinsip ekonomi adalah :

  1. Hidup hemat dan tidak bermewah – mewahan
  2. Menjalankan usaha yang halal
  3. Menjalankan zakat
  4. Penghapusan/ pelarangan riba.

Sedangkan menurut capitalism behavior memiliki kontra pemikiran yang sangat jauh, memang karena capitalism ini berawal dari pemikiran manusia saja tanpa adanya bimbingan dari Allah SWT. Ada beberapa pendapat yang mendominasi capitalism behavior yaitu :

  1. Jeremy Bantham (1748-1823) Rasionalitas berpegang pada prinsip maximizing pleasure minimizing painDengan demikian, asumsi yang digunakan oleh Bentham adalah;
    a) kesenangan yang paling besar adalah yang jumlahnya paling banyak (the greatest happiness of the greatest number).
    b) tindakan yang baik adalah segala tindakan yang mengarahkan manusia menambah jumlah kesenangan, sementara tindakan yang tidak mengarah kepada kesenangan atau yang mengurangi jumlahnya adalah tindakan yang tidak baik.
  2. Adam Smith (1776)
    Capitalism is based upon individual self interest and the pursuit of monetary gain
    Humans are largely ruled by sentiments, feelings and passions. Theology is not a source of guaranteed truth (spencer j. pack on smith’s view)
    The capitalist economy is not the result of total conscious planning
    Similarly, the moral education and socialization of a human is not the result of total conscious planning. It is the result of the constant feedback of society to the actions of the individual
  3. F.Y Edgeworth (1881)
    Egoism merupakan nilai yang konsisten dalam diri setiap manusia yang mempengaruhi setiap keputusan-keputusan hidup, termasuk keputusan ekonomi.

Berdasarkan dari pemikiran – pemikiran dan behavior tersebut akhirnya menjadi sebuah perilaku yang berkesinambungan yang akhirnya membentuk sebuah teori yang mengakar dari permasalahan dan prinsip ekonomi kapitalis. Sebagaimana telah diketahui sebelumnya bahwa yang menjadi permasalahan adalah adanya keterbatasan sumber factor produksi yang dihadapkan dengan keinginan yang tidak terbatas. Hal ini sangat jelas bahwa permasalahan ekonomi ada akibat pemikiran F.Y. Edgeworth bahwa egois (nilai pengakuan diri sendiri) menjadi pengaruh dalam pengambilan keputusan ekonomi sehingga tidak memiliki tolok ukur dalam pemenuhan kebutuhan. Sebagaimana juga pada prinsip ekonomi kapitalis yang sangat mencerminkan individualism yaitu Berkorban sedikit (sekecil) mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar – besarnya. Jelaslah bahwa prinsip ekonomi ini dipengaruhi oleh pemikiran Jeremy Bentham mengenai teori rasionalitasnya dan juga adam smith yang mengatakan bahwa kapitalis berdasarkan pada kepentingan pribadi dan bertambahnya uang.

Setelah kita amati dan bandingkan bahwa ekonomi Islam yang berawal dari Islamic behavior sangat menjaga nilai dan batas – batas kemanusiaan sehingga ketimpangan – ketimpangan ekonomi sangat jarang dan bahkan tidak terjadi ketika nilai – nilai Islamic tersebut dapat dijaga. Sedangkan pada pemikiran dan capitalism behavior bahwa segala sesuatu diserahkan pada masing – masing individu dan tidak memiliki tolok ukur nilai yang jelas sehingga ketimpangan ekonomi sangat sering terjadi dan bahkan dapat dikatakan selalu terjadi.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai pebandingan Islamic Economic Behavior dan Capitalism Behavior, semoga para pembaca dapat berfikir jernih dan memilih yang terbaik diantara keduanya.

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (Oleh: Abdurrahman Misno)

Perpusatakaan sebagai gudangnya ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan masyarakat. Ia adalah tempat untuk membaca buku, menggali berbagai ilmu pengetahuan serta mengasah ketrampilan. Tujuan akhir dari semua aktiftas tersebut adalah terwujudnya masyarakat yang maju dan berperadaban. Memiliki tingkat minat baca yang tinggi, mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan sebagai bekal dalam kehidupan.

Seiring berkembangnya masyarakat, maka kebutuhan akan perpustakaan yang tidak hanya sekadar tempat untuk membaca semakin terasa. Perpustakaan harus meningkatkan perannya sebagai agent of change, sehingga memberikan manfaat yang tinggibagi masyarakat. Perpustakaan harus bertranformasi dengan meningkatkan layanannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga transformasi perpusatakaan berbasis inklusi sosial menjadi sebuah keniscayaan.

Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada tahun 1970-an di Prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negara-negara Eropa, yang memiliki dampak yang meningkat pada kerugian sosial di Eropa. Konsep ini menyebar ke seluruh Eropa dan Inggris sepanjang tahun 1980-an dan 90-an. Selanjutnya pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark, 6-12 March 1995 kembali ditekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan. Konferensi ini memutuskan untuk terus berupaya menanggulangi kemiskinan, mendorong masyarakat yang stabil, aman, dan adil bagi masyarakat sebagai tujuan utama dalam pembangunan.  Inilah yang kemudian dirumusan sebagai inklusi sosial yaitu pembangunan berkesejahteraan yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan tujuan masyarakat yang stabil, aman, dan adil.

Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 2 menyebutkan bahwa “Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan”. Merujuk pada hal ini maka perpustakaan mengemban amanah sebagai tempat pembelajaran dan kemitraan bagi masyarakat yang dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan dapat diukur capaian kinerja bagi kesejahteraan masyarakat. Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Sehingga inklusi sosial sebagai basis transformasi perpustakaan adalah pendekatan berbasis sistem sosial yang memandang perpustakaan sebagai sub sistem sosial dalam sistem kemasyarakatan. Untuk itu, perpustakaan dirancang untuk memiliki manfaat yang tinggi  di masyarakat. Perpusatkaan berbasis inklusi sosial merupakan upaya meningkatkan akses kepada masyarakat agar mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Sehingga terjadi proses belajar yang mendorong kreatifitas dan inovasi agar menjadi produktif, bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui pendekatan inklusif ini perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh semangat baru dan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.

Gagasan mengenai inklusi sosial di bidang perpustakaan mulai diwacanakan pada tahun 1999 melalui dokumen Libraries for All: Social Inclusion in Public Libraries Policy Guidance for Local Authorities in England October 1999.  Dokumen ini diterbitkan oleh Department for Culture, Media and Sport, Gov. UK. Pembahasan utama dokumen ini adalah adanya tujuh (7) kunci dalam pengembangan inklusi sosial di bidang perpustakaan, yaitu; (1) perlunya inklusi sosial di perpustakaan umum, (2) kontek inklusi sosial, (3) identifikasi dan hambatan keterlibatan masyarakat, (4) kebijakan inklusi sosial, (5) sarana untuk mencapai tujuan, (6) tantangan yang dihadapi perpustakaan, (7) proses konsultasi.

Selanjutnya pada The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) kembali dibahas masalah ini pada tahun 2007 dalam pertemuan World Library and Information Congress: 73rd IFLA General Conference and Council 19-23 August 2007, Durban, South Africa.  Melalui tulisan Prof Ina Fourie Department of Information Science, University of Pretoria dengan judul tulisan “Public libraries addressing social inclusion: how we may think…”. Tulisan ini membahas tentang identifikasi permasalahan, kompleksitas, target kelompok, capaian kegiatan, solusi permasalahan, layanan dan inisiatif yang diperlukan, keterampilan penelitian, penelusuran subjek literatur, pengetahuan diri, survei literatur dan penelitian konsep inklusi sosial yang mengacu pada semua upaya dan kebijakan untuk mempromosikan kesetaraan, kesempatan kepada semua orang dari berbagai keadaan dan kategori untuk mengakses dan mendayagunakan perpustakaan. Merujuk pada rumusan tersebut maka layanan yang ditawarkan perpustakaan harus siap dapat diakses oleh semua yang membutuhkan. Sehingga Layanan perpustakaan dapat  merangkul kalangan seluas mungkin.

Pemerintah Indonesia melalui ementerian PPN/Bapenas mulai tahun 2018 telah menetapkan Kebijakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Target tahun 2018 sebanyak 60 lokasi, target tahun 2019 sebanyak 300 lokasi dengan alokasi anggaran 145 miliar + DAK 300 miliar. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan suatu pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan. Transformasi tersebut dapat diwujudkan  dalam 4 peran, yaitu:  (1) Perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan, pusat kegiatan masyarakat, dan pusat kebudayaan (2) Perpustakaan dirancang lebih berdaya guna bagi masyarakat (3) Perpustakaan menjadi wadah untuk menemukan solusi dari permasalahan kehidupan masyarakat (4) Perpustakaan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Tujuan Kebijakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah untuk:  (1) Meningkatkan literasi informasi berbasis TIK, (2) Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat (3) memperkuat peran dan fungsi perpustakaan, agar tidak hanya sekadar tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tapi menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat dan pemberdayaan masyarakat.

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan optimalisasi peran perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat (long life education). Hal ini karena perpustakaan bukan hanya sebagai pusat sumber informasi tetapi lebih dari itu sebagai tempat mentrasformasikan diri sekaligus sebagai pusat sosial budaya dengan memberdayakankan dan mendemokratisasi masyarakat dan komunitas lokal,  dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga masyarakat akan mampu untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan yang akan berimplikasi kepada kesejahteraan mereka.

Halal dan Thayyib sebagai Syarat Makanan Islami (Menyikapi berita Klepon bukan makanan Islami) Oleh: Abd Misno Mohd Djahri.

Islam sebagai agama yang paripurna telah memberikan pedoman bagi umat manusia dalam berbagai sendi kehidupannya. Termasuk dalam masalah makanan, Islam memberikan syarat bahwa makanan dalam Islam haruslah memenuhi dua syarat yaitu halal dan thayyib (QS. Al-Baqarah: 168). Halal berarti terbebas dari segala bentuk dzat yang telah diharamkan dalam Islam, yaitu: bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih tidak menyebut nama Allah (QS. Al-Maidah: 3). Selain itu Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan adanya makanan haram yang lainnya yaitu binatang yang bertaring dan memiliki cakar tajam. Berikutnya para ulama juga menganggap makanan dari binatang yang hidup di alam atau binatang yang menjijikan sebagai makruh-tahrim. Makanan yang diperbolehkan dalam Islam untuk dikonsumsi juga harus bersifat thayyib, yaitu baik untuk tubuh dan kesehatan manusia. Tidak boleh makan makanan yang merusak tubuh, kesehatan, akal dan kehidupan manusia, misalnya makanan yang banyak mengandung lemak sehingga berbahaya atau makanan yang tidak direkomendasikan oleh dokter karena adanya penyakit tertentu bagi seseorang.
Selain makanan yang haram dan tidak thayyib karena dzatnya, kita juga tidak boleh mengonsumsi makanan yang haram karena cara mendapatkannya. Misalnya dengan cara merampok, mencuri, korupsi dan perbuatan haram lainnya dalam Islam. Walaupun dzat dari makanan tersebut halal tetapi karena caranya diharamkan maka menjadi haram dikonsumsi. Demikian pula makanan yang meragukan dalam hal cara mendapatkannya, dan terdapat keyakinan kuat bahwa makanan itu tidak halal maka hendaknya kita menjauhkannya.
Pada era modern makanan yang haram juga bisa terjadi karena perkembangan dari tekhnologi yang menjadikan bahan-bahan pembuat makanan yang berasal dari yang haram namun tidak kita ketahui. Misalnya berbagai jenis bahan pembuatan makanan dari luar negeri yang kita tidak ketahui kehalalannya, atau terindikasi berasal dari bahan yang haram. Sebagai contoh, hasil fermentasi dari khamr, atau bahan-bahan pembuatan makanan dari dagung babi atau bangkai. Maka dalam hal ini jaminan kehalalan atas makanan tersebut yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang dan kompeten menjadi sebuah keniscayaan. Labelisasi halal atas berbagai makanan yang ada di pasaran menjadi hal wajib dalam pandangan Islam.
Merujuk kepada pembahasan ini makanan makanan yang halal adalah makanan yang tidak mengandung dzat yang haram serta mendapatkannya dengan cara yang halal. Makanan halal inilah yang bisa disebut dengan makanan yang Islami, yaitu makanan yang sesuai denagn syariah Islam. Inilah pedoman Islam dalam melihat kehalalam makanan, ukurannya adalah halal dan thayyib, tidak ada yang lainnya.
Jika saat ini menyebar mengenai makanan yang dianggap tidak Islami maka hendaknya sebagai seorang muslim kita harus cerdas menyikapinya.
Pertama, bisa jadi berita dalam bentuk gambar yang viral tersebut adalah hoax atau berita dusta yang sengaja disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan ingin menjelek-jelekan Islam. Banyaknya fitnah di zaman ini sangat mungkin bagi orang-orang yang tidak suka dengan Islam untuk menyebarkan fitnah terhadap Islam. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam harus melakukan check and recheck atau tabayun dalam menyikapi berita ini (QS. Al-Hujuraat: 6). Bisa jadi mereka yang tidak suka Islam sengaja membuat isu ini agar umat Islam terpancing, maka berfikir Islami adalah solusi dalam menghadapi segala bentuk hoax ini.
Kedua, mereka yang bercanda dengan simbol-simbol Islam. Ini biasanya mereka yang tidak paham dengan agama Islam sehingga menjadikannya bahan candaan atau lawakan. Tentu saja hal ini diharamkan dalam Islam sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. At-Taubah: 65-66 “”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”. Mengolok-olok Islam dan simbol-simbolnya merupakan bentuk kekufuran yang nyata sehingga bercanda dengan menyatakan “Makanan ini tidak Islami, atau makanan ini Islami” adalah sama dengan mengolok-olok Islam. Menjadikan Islam sebagai bahan candaan adalah dosa besar bahkan bisa membawa pelakunya kepada kekufuran. Termasuk sikap mengolok-olok Islam adalah bercanda dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia, ucapan “Tinggalkan klepon (jenis makanan) karena tidak Islami, beli dan makanlah kurma dan madu karena ia adalah Islami… “ kata-kata seperti ini sejatinya adalah hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi saja. Tentu saja kata-kata ini berkaitan dengan hukum dalam Islam tentang makanan Islami atau tidak Islami, klaim sepihak karena berjualan ini jelas tidak dibenarkan dalam Islam dan termasuk mengolok-olok agama dan haram hukumnya jika pelakunya sadar dan tahu hukumnya.
Ketiga, orang Islam yang jahil dan ghuluw dengan agamanya. Menganggap bahwa makanana (semisal klepon) tidak Islami adalah kebodohan yang nyata, karena suatu makanan itu Islami syaratnya adalah halal dan thayyib. Sehingga segala jenis makanan selama ianya halal dan thayyib maka ia adalah Islami. Memang, kebodohan sebagian umat dan mereka yang berlebihan (ghuluw) dalam agama menganggap makanan yang Islami adalah makanan yang berasal dari Arab, tentu saja hal tersebut tidak berdasar sama sekali. Betul, ada beberapa makanan yang dianggap sunnah (dianjurkan) untuk dikonsumsi semisal; madu, kurma, buah zaitun, buah tin dan yang lainnya yang kebetulan ada pada masa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Namun bukan berarti itu adalah makanan Islami, sebaliknya makanan yang tidak ada pada masa beliau atau bukan berasal dari wilayah Arab itu tidak Islami. Selama halal dan thayyib maka itu adalah Islami dan diperbolehkan untuk dikonsumsi dalam Islam. Maka solusi atas kebodohan dan sikap ghuluw ini adalah belajar, thalibul ilmi, mempelajari Islam dengan manhaj yang benar. Ilmu lah yang mengantarkan kita kepada cahaya dan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Maka menghadapi berbagai berita yang viral hendaknya umat Islam tidak berlebih-lebihan dalam menyikapinya demikian pula tidak acuh tak acuh dengan agamanya. Lakukanlah sesuatu untuk membela Islam khususnya dari mereka yang benci dengan Islam dan selalu mengolok-oloknya. Bersikaplah rahmah dan lemah lembut kepada orang-orang yang jahil karena mereka perlu bimbingan. Serta teruslah belajar karena dengannya kebijaksanaan akan didapatkan. Wallahua’lam, Pagi Berseri di Bogor City. 22072020.

Sebelum Pulang……….. (Oleh: Abdurrahman)

Tak banyak yang bisa diungkapkan dengan barisan kata ketika harus berbagi cerita tentang “Pulang”. Perjalanan yang sangat panjang ini telah membawaku ke berbagai pengalaman lahir batin yang luar biasa. Perjalanan panjang yang melelahkan namun penuh dengan tantangan dan cobaan kehidupan. “Sebelum Pulang” adalah kisah perjalanan seorang anak manusia di dunia penuh kefanaan, bukan sekadar pengalaman yang menyenangkan, namun duka yang bertabur lara, serta tawa beraroma gelaknya.

Berawal dari sebuah titik keberangkatan, perjalanan ini aku mulai dengan membawa hati dan perasaan. Membawa luka yang kian menganga, gundah di jiwa dan sengsara karena dunia. Perjalanan ini juga diringi oleh sebuah cita dan asa akan perbaikan masa depan yang penuh dengan mimpi-mimpi penuh harapan. Awal yang indah pada senja memerah di ujung sawah, angin yang kian melemah mengalah diterpa remang malam yang kian melegam. Sebelum pulang diawali dari sebuah keberangkatan yang penuh dengan biru haru, syahdu karena harus berpisah dengan orang-orang yang selalu kurindu tanpa batas waktu. Sebelum pulang aku sudah berjanji dalam hati, akan memberi sesuatu yang membuat manusia menjadi “iri” dan tidak memandang kami manusia setengah “nyali”.

Awal pengembaraan di Metropolitan, sebuah kota dengan seluruh kesibukannya. Kota harapan yang mempesona para insan di pedususnan, kota yang membawa asa di tengah dahaga dunia. Aku terdampar di antara hitam air got metropolitan, tinggal di gang-gang sempit Pademangan, bersama buruh-buruh kasar di utara Jakarta hingga menjadi manusia yang tanpa arti. Pecundang, penggelandang dan orang-orang di pinggir-pinggir gang. “Sebelum pulang”, aku harus menjadi orang, bukan karang yang pasrah dengan deburan ombak di ujung petang. Namun, tak ada jalan. Hanya gang sempit yang kian hari kian menghimpit, hingga cita ini semakin sulit untuk kembali dibangkit. Lingkungan tak ada dukungan, saudara jauh di ujung pandang, kampung halaman terukir di sudut ruang.

Menjelang akhir perjuangan, asa itu datang tanpa diundang. Ia bersinar di antara gempita metropolitan, menyeruak kembali membangunkan mimpi-mimpi yang telah lama pergi. Asa itu ada, karena ia sealu terpatri dalam jiwa walaupun dikerumuni duka sebagaimana sampah yang mengonggok di Pasar Mangga Dua Jakarta. Seorang laki-laki beraroma surgawi, menghampiri dan memberi arti akan hidup ini. Memberi arah kaki melangkah menunjukan jalan ketika asa itu tinggal kenangan. Sang lelaki impian datang di saat jiwa ini semakin garang di tengah kota yang semakin gersang. Segera kuraih tangan lelaki itu, ia membimbingku, menggandengku, merengkuhku hingga tiba di kota harapan itu. Kota Hujan penuh impian yang tidak lain tidak bukan kota harapan bagi kehidupan yang lebih menawan di masa depan.

“Sebelum Pulang”, ternyata ia bukan malaikat sempurna. Sang penolong yang berhati garong, sang penyelamat berhati terlaknat. Ah… bukan mengumpat, hanya aku belum menerima semuanya hingga mengharapkannya seperti dewa tanpa dosa. Ia memberikanku madu bersama dengan setetes empedu, ia menawarkan surga namun neraka juga diberinya. Kini ia telah kembali ke alam sana, semoga Tuhan merahmatinya. Aku kembali sendiri di tengah jalan kesuksesan, di antara pecahan kekecewaan dan kusutnya benang-benang kehidupan. Aku harus bangkit, merajut mimpi yang ada di seberang kali. Ciliwung memberi mimpi penuh arti pada diri yang hidup namun setengahnya mati suri.

Bogor, Kota Hujan penuh impian. Kurajut mimpi-mimpi indah di antara semilir angin dari Ciawi.  Aku mencoba berdiri tegar, setegar gunung Salak di ujung Bogor Selatan. Kesungguhan dan perjuangan yang penuh darah dan air mata kini mulai bisa dirasa. Luka lama yang masih menganga harus dibalut dengan kapas cita, kesuksesan itu semakin dekat dengan pandangan. Tinggal kuraih seperti seorang bayi yang meraih tangan lembut ibunya. Kesuksesan itu terlalu dekat hingga ingin rasanya kudekap, kunikmati dan terbang bersamanya ke menuju pelosok negeri. “Sebelum Pulang” perjuangan harus dilanjutkan, kesuksesan awal jangan menjadi tumpuan karena di atas kesuksesan ada kesuksesan.

Sebelum pulang, akan aku persiapkan perbekalan untuk orang-orang tersayang di kampung halaman. Tak akan lagi kubiarkan keluarga idaman merana dengan duka lara dunia, tak akan lagi terdengar cerita keluarga tidak makan hanya karena hutang di pasar tak lagi terbayarkan. Hanya satu yang menjadi harapan, kedua orang tua bisa hidup mapan tanpa kekhawatiran di masa kehidupan. Aku ingin mereka menikmati masa tua tanpa rasa khawatir dan duka dunia.

Kesuksesan memiliki tingkatan-tingkatan, aku tidak tahu berada di tingakatan mana saat ini berada. Yang pasti, hampir semua keinginan bisa didapatkan, semua harapan ada di genggaman dan mimpi-mimpi itu sudah menjadi nyata kini. Pergi ke luar negeri, naik kapal pesiar di sungai Musi, mengembara hingga ke Sumatera dan Nusa Tenggara dan berkelana di belantara beton Jakarta. Saat ini, kesuksesan tak lagi sekadar mimpi semua dengan mudah terjadi. Namun, aku juga tidak terpedaya dengan kesuksesan dunia, karena ada kesuksesan yang lebih tahan lama, kehidupan abadi di alam sana, itulah yang harus kupersiapkan segalanya.

Sebelum pulang, aku sudah menyiapkan perbekalan. Perbekalan yang akan mebuat orang-orang desa terperangah dan menganga. Ah…. Itu kesombongan adanya. Tentu aku tidak seperti itu, pengalaman kehidupan telah membawa pada satu keyakinan bahwa kesuksesan dunia bukanlah tujuan utama. Mungkin bisa saja aku pulang membawa chamry, namun iman di hati tentu lebih berarti. Hingga kesombongan itu kubuang jauh-jauh, ia hanya akan membawa murka Sang Pencipta karena kesombongan adalah milikNya tidak pantas bagi manusia yang penuh dosa bertabur hawa. 

Kini, aku siap untuk pulang. Membawa harapan yang sudah di genggaman, membawa dunia bersama isinya. Oleh-oleh pulang yang lebih dari semua itu, adalah ilmu yang dulu selalu kutunggu. Perjuangan sebelum pulang telah kulalui, ayah bunda tercinta kini sudah menanti mengarap diri kembali ke pertiwi menjadi anak negeri yang hakiki. Aku sudah pulang, kedua orang tuapun senang, para tetangga kini mengenang, si anak malang kini telah jadi “orang”. Bukan itu yang kuharapkan kemuliaan di mata dunia hanyalah sementara, ada kemuliaan yang akan kekal selamanya kemuliaan di alam sana yang tiada tara. Ketika aku pulang, kusyukuri seluruh nikmat ini kuridhai seluruh detik hidup ini dan kunikmati setiap jengkal ibu pertiwi.

Waktu tak mau diajak kompromi, mengalir bersama hari-hari penuh arti di sisi ayah bunda yang berseri-seri. Aku harus kembali, kembali mengeksplorasi potensi diri untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi. Tak terasa, air mata mengalir di pipi, asa dan duka menggelayut dalam hati tak kuasa meninggalkan bumi pertiwi. Aku akan kembali, kembali untuk pulang kembali. Kembali ke aktifitas sehari-hari di rantau lagi, dan akan pulang lagi ke bumi pertiwi.

“Sebelum Pulang” kembali, aku akan mempersiapkan perbekalan yang lebih lagi, untuk ayah dan bunda di bumi pertiwi agar keduanya kembali berseri dalam nikmat hidup yang penuh arti. “Sebelum Pulang” aku akan menyelesaikan akhir perjalanan kehidupan serta menyempurnakan iman hingga ke ujung kehidupan. Sebelum  Pulang ke kampung halaman, aku juga harus memikirkan pulang ke kampung keabadian karena di sanalah keabadian dimulakan tanpa akhir dan tanpa kesusahan.

NB: Pulang bagi saya memiliki makna yang sangat mendalam, bertemu dengan orang tua, sanak saudara dan teman-teman ketika masih belia. Pulang kampung menjadi momen paling menyenangkan karena bisa berkumpul dengan semuanya. Bukan untuk bangga dengan dunia, tapi iman di dada itulah yang seharusnya ada. Lebih dari itu “Pulang” juga saya maknai dengan pulang ke alam sana, di mana keabadian itu ada dan tak ada lagi duka nestapa dirasa. Kesempurnaan kehidupan bagi saya adalah segalanya, dan “Pulang” adalah jalannya.

Metodologi Pemikiran INAIS: Belajar dari Al-Azhar

Metodologi Pemikiran INAIS: Belajar dari Al-Azhar

Dr. M. Imdadun Rahmat, M.Si

Rektor INAIS

Beberapa waktu yang lalu, beberapa lembaga penelitian mempublikasi hasil risetnya tentang radikalisasi agama di kampus-kampus. Hasilnya, beberapa perguruan tinggi umum ternama ternyata menjadi persemaian ideologi Islam radikal. Kesimpulan ini bukanlah barang baru. Beberapa buku yang terbit pada awal tahun 2000-an telah mengulas fenomea ini. Buku penulis yang berjudul Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia (LKIS, 2005) juga menjelaskan kelahiran gerakan radikal Islam berbasis kampus dan perkembanganya di Indonesia. Temuan penelitian ini masih cukup relevan untuk dijadikan perhatian serius bagi dunia pendidikan tinggi di negeri kita. Sebab, alih-alih berkontribusi bagi pembangunan rasa kebangsaan (nation building), kampus-kampus favorit justru menjadi ladang bersemainya gerakan mengatasnamakan Islam yang merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara.

Hasil penelitian mutakhir tentang radikalisasi Islam di kampus ini memberikan konfirmasi akademis-ilmiyah tentang asal-muasal fenomena makin maraknya aksi, dukungan dan simpati kepada radikalisme bahkan terorisme di masyarakat. Kampus menjadi sumber, agen penyalur dan distributor radikalisme ke tengah masyarakat. Ideologi radikal –yang berasal dari Timur Tengah yang diimpor ke Indonesia sejak 1980-an terus tumbuh, berkembang, dan menyebar di masyarakat. Pandangan yang intolaran, berbau kekerasan, keketatan yang berlebihan, pengkafiran kepada sesama muslim, pengkafiran negara Pancasila, nasionalisme, demokrasi, bahkan dukungan terhadap terorisme yang saat ini makin banyak pegikutnya merupakan akibat dari pengaruh kuat radikalisme di kampus-kampus umum favorit.   

Belajar dari hal itu, komunitas perguruan tinggi berkewajiban melakukan yang sebaliknya. Perguruan tinggi harus menjadi sumber pencerahan bagi penguatan kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam konteks radikalisasi Islam, perguruan tinggi agama Islam memiliki tanggungjawab lebih untuk memproduk dan menyebarkan pemahaman yang benar mengenai ajaran Islam. Pemahaman yang salah yang menjadi sebab radikalisasi terjadi karena pengabaian ilmu, terutama ilmu alat yang menyediakan metodologi (manhaj) dalam memahami Al-Qur’an dan Assunnah. Akar radikalisasi Islam adalah puritanisme kebablasan sampai-sampai menolak intelektualisme dan metode ilmiyah yang dikembangkan oleh para imam madzhab dan para ulama besar Ahlussunnah wal-jama’ah dari jaman klasik hingga sekarang.

Puritanisme ekstrim memandang metodologi ilmiyah, kerja dan hasil ijtihad para ulama sebagai bid’ah yang harus diberantas. Kitab-kitab klasik yang menjadi fundamen ijtihad, istinbath hukum dan pembuatan fatwa harus dimusnahkan. Jargon “kembali kepada Qur’an dan Sunnah” dimanipulasi untuk memusuhi ilmu pengetahuan Islam dan turats Islamy. Inilah pangkal dogmatisme ideologi politik yang menyuburkan radikalisasi. Padahal, pemahaman Islam yang bisa dipertanggungjawabkan adalah pemahaman yang mengacu pada standart ilmu, bukan standart ideologi politik yang mengatasnamakan agama, atau standart kepentingan dan interest pribadi atau golongan. Perguruan tinggi Islam sebagai lembaga pengembangan dan pengajaran ilmu Islam berkewajiban meluruskan pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama yang keliru tersebut.

Dalam situasi seperti ini, penting artinya menegaskan konsistensi pendidikan tinggi Islam kepada asas-asas ilmiyyah-manhajiyyah dalam mengembangkan pemahaman, pengetahuan dan ilmu Islam. Asas ilmiyyah-manhajiyah ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian inti khazanah ilmu pengetahuan dan intelektual Islam (tsaqofah Islamiyah).  Asas inilah yang menjadi penjaga malam dan benteng perlindungan dari ancaman pemahaman yang keliru atau menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Sudah saatnya pendidikan tinggi Islam memperkuat pertahanan ini dengan menyerukan “Al-Audah ila Al-Manhaj”, “back to metodology”.  

Fikrah Diniyyah Manhajiyyah (Pemikiran Keagamaan yang Metodologis)

Sebagai entitas yang tumbuh dari tradisi ilmiyah dan dakwah pesantren, pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia berfungsi sebagai lembaga dakwah dan pengembangan ilmu agama.  Sejarah lahirnya pendidikan tinggi Islam negeri maupun swasta pertama kali (seperti IAIN, UII, dll.) menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu-ilmu Islam secara ilmiyah manhajiyyah. Kurikulum pendidikan tinggi Islam awalnya dibagun dari tradisi ilmiyah di pesantren dan kurikulum Al-Azhar Kairo Mesir. Mandat ilmmiyah manhajiyah tersebut masih dipertahankan hingga saat ini meskipun IAIN telah berubah menjadi UIN yang juga membuka fakultas ilmu-ilmu umum.  INAIS juga demikian. INAIS didirikan untuk menjadi sarana mencetak “santri senior” (sarjana muslim) yang alim, soleh dan profesional yang memiliki keunggulan kompetitif dalam persaingan global. INAIS juga diharapkan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan hingga tingkat internasional. (Eka Dasawarsa Pondok Pesantren Sahid, Pesantren Sahid, 2010).  

Sebagai lembaga pendidikan tinggi di lingkungan Yayasan Wakaf Khusnuh Khatimah Gunung Menyan, INAIS didedikasikan untuk mengembangkan ilmu, kesarjanaan dan intelektualitas Islam. Urgensi keberadaannya yang asasi dan tugas sucinya adalah ilmu yakni ilmu-ilmu Islam (ulum al-Syar’iyyah) yang dipadukan dengan ilmu-ilmu lain khususnya ekonomi dan kewirausahaan. Maka INAIS diharapkan berkembang menjadi salah satu kontributor penting perkembangan ilmu Islam dan kewirausahaan bagi ummat Islam di sekitaran, lokal hingga nasional. Bahkan di masa depan, INAIS adalah embrio Internasional Islamic Education Center.

Sebagai lembaga pengembangan dan penyebaran ilmu, INAIS selalu mengacu kepada metodologi ilmiyyah. Sebuah prinsip yang juga dipegang teguh dan diwariskan dari generasi ke generasi oleh para syaikh, ulama dan kiai kepada murid dan santrinya.  Metode ilmiyah memiliki fondasi-fondasi dan prinsip-prinsip dasar yang terus berkembang hingga menjadi sempurna. Dalam hal ini, Al-Azhar Kairo Mesir bisa menjadi bahan pertimbangan. Pada akhir 2014, penulis mengikuti Daurah Ilmiyyah di Al-Azhar selama sebulan. Salah satu yang menjadi catatan adalah prinsip-prinsip yang dipegang teguh perguruan tinggi Islam pertama tersebut.

Yang pertama, keilmuan sangatlah penting.  Al-Azhar bukan hanya mengembangkan dan mengajarkan ilmu Islam, tetapi juga ilmu lain yang menyempurnakan ilmu Syar’i, baik yang bersifat rasional (ulum aqliyyah), ilmu alam (ulum tobiiyyah), maupun ilmu klasik (ulum taqlidiyyah). Artinya, segala ilmu pengetahuan baik yang berasal dari tradisi lama (peradaban Mesir kuno atau Yunani kuno) maupun dari yang baru (modernitas) ditempatkan sebagai penyempurna ilmu Syariat.  Sebagaimana Azhar, INAIS bukan hanya mengajarkan disiplin ilmu-ilmu Islam, tetapi mengintegrasikannya dengan ilmu lain yang menyempurnakan ilmu Islam tersebut. Ilmu pengetahuan dari tradisi lama (peradaban Nusantara) maupun ilmu modernitas diposisikan sebagai penyempurna ilmu agama.

Kedua, pentahapan ilmu agama. Mahasiswa Al-Azhar, berlajar ilmu dasar, kemudian beranjak ke yang lebih luas. Dari matan (kitab induk), ke hasyiyah (kitab anotasi), ke syarah (kitab penjelasan dari kitab induk), dan seterusnya. Dari “ilmu alat” yakni ilmu yang dibutuhkan untuk memahami nash-nash syar’i (teks-teks kitab suci) seperti ushul fiqh, ulum al-hadits, ulum musthalah hadits, ulum tafsir, ulum lughah dan sebagainya,  ke “ilmu ghayat” yakni ilmu yang menjelaskan isi dan kandungan Qur’an, Hadits dan hukum-hukum agama. 

Mahasiswa INAIS, seperti juga para santri dituntut berlajar secara tadarruj (bertahap) tidak boleh melompat. Sebab, pentahapan ilmu akan menolong akademisi menguasai ilmu secara tertib dan disiplin.  Civitas akademika INAIS juga harus memahami agama secara tuntas, tidak boleh setengah-setengah. Ahli agama Islam yang sesungguhnya harus menguasai materi ilmu Islam dari akar, pokok, cabang dan rantingnya. Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang mempelajari dan menguasai lmu alat dan ghayat sekaligus.

Maka untuk menjamin pertanggungjawaban ilmu, jika sesorang belum menguasai ilmu alat, baiknya mengutip, mengacu atau taqlid saja pada qoul pandangan para ulama sebelumnya. Tidak elok memaksakan diri mengarang-ngarang hukum agama tanpa ilmu, apalagi menyerang, membid’ah-bid’ahkan atau mengkafirkan para ahli ilmu. Itulah etika ilmiyah yang mesti dijunjung tinggi oleh keluarga besar INAIS. INAIS tidak boleh mengundang narasumber yang tidak mendalami ilmu alat dan ilmu ghayat untuk ceramah tentang disiplin ilmu agama.  Kehati-hatian ini penting mengingat fenomena “pasar bebas” agama. Siapapun bisa menyandang gelar ulama saat ini.  Banyaknya penceramah dadakan yang tiba-tiba jadi ulama padahal dia tidak mendalami ilmu agama. Kenekatan mereka mengarang-ngarang hukum agama tanpa landasan ilmu menyebabkan “mal praktek” dalam agama.

Ketiga, metodologi dan sanad yang benar. Menurut Al-Azhar, tranmisi ilmu harus bersanad dari para syaikh. Murid harus belajar kepada para guru dan syaikh. Sanad mengandung ikatan/hubungan, norma akademik, hukum-hukum dan kebaikan-kebaikan. Ini bermakna untuk menjaga orisinalitas ilmu. Mengambil ilmu dengan barakah, dengan pemahaman yang benar dari para ulama. Sanad mengandung tata krama dalam mengambil ilmu.   Maka inti agama adalah ilmu. Inti ilmu adalah norma (adab). Dan inti norma adalah akhlak dan pendidikan. Adab dalam dunia ilmiyyah sangatlah penting. Penghormatan dan ketawadluan kepada para guru dan kepada ulama dicontohkan oleh para ulama yang lalu, Imam Malik, Imam Syafii dan imam-imam lainnya.

Karena sangat pentingnya sanad, para sahabat dilarang oleh Nabi untuk menulis apa yang diajarkan. Ini menunjukkan pentingnya mentransmisi ilmu dengan cara yang benar yakni langsung bertanya kepada Nabi. Maka ada adagium yang masyhur di Al-Azhar “jangan mengambil ilmu dari buku, dan jangan mengambil Qur’an dari mushafnya”. Artinya, jangan berguru kepada orang yang hanya mendapatkan ilmu dari buku. Orang yang mengambil ilmu tidak dari ulama, dan hanya dari buku maka dia akan sesat dan lebih sesat. Kita harus mempelajari Qur’an dari ulama yang belajar kepada guru yang belajar dari guru terus hingga kepada Rasulullah yang mendapatkannya dari Jibril.  

Tradisi sanad ilmu ini sangat dijunjung tinggi di pesantren. Seorang ustadz atau kiai lulusan pesantren tidak berani mengajarkan suatu kitab tanpa mendapatkan ijazah dari gurunya. Meskipun ia sangat menguasainya. Ijazah berupa ijin lisan dan restu guru merupakan mekanisme informal untuk menjaga kualitas guru dan otentisitas ilmu. Tradisi ini menjadi embrio dari lembaran lisensi atau ijazah dalam dunia akademik modern. Bahkan sejak dini seorang murid telah dikenalkan dengan pentingnya sanad dalam ilmu. Seorang murid memerlukan guru dalam menuntut ilmu. “Irsyad al-ustadz” (bimbingan guru) merupakan satu dari enam syarat sukses mencari ilmu sebagaimana diurai dalam kitab kecil Ta’limul Muta’allim yang masyhur di pesantren.   Mahasiswa INAIS dituntut untuk belajar kepada para ulama. Sebab, para ulama itulah yang mengabdikan diriya kepada ilmu agama dan memiliki keahlian, kepakaran dan pertanggungjawaban akademis ilmiyah. Tradisi demikian juga sangat kuat dihidup-hidupkan oleh dunia pesantren dan pusat-pusat ilmu di dunia Islam Ahlussunnah wal-jamaah.

Keempat, metodologi dalam ilmu sangatlah penting dalam kerangka mendapatkan ilmu yang benar sehingga kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Di Al-Azhar, ilmu adalah metodologi (manhaj). Metodologi lebih dahulu atau didahulukan dari pada ilmu/ilmu pengetahuan. Seseorang dimaafkan jika salah dalam menyimpulkan atau menghasilkan ilmu, tetapi tidak termaafkan jika salah dalam metodologi. Jika seseorang salah dalam memahami realitas (hakekat) bisa dimaafkan tetapi tidak jika seseorang salah dalam metodologi. Maka bagi Al-Azhar dalam mendapatkan kebenaran harus dengan metodologi ilmu yang benar.

Di pesantren-pesantren, pentingnya metodologi diwujudkan dalam bentuk penguasaan ilmu alat. Mulai dari ilmu lughoh (penguasaan mufradat, sorof, nahwu dan balaghah), ushul fiqh, ulum al-hadits, ulum musthalah hadits, ulum tafsir dan sebagainya. Manhaj atau metodologi menjadi acuan dalam memahami ajaran Islam. Dengan demikian, memahami agama dengan cara serampangan, sembrono dan tidak hati-hati tidak diperkenankan di pesantren. Di INAIS juga demikian. Lebih baik mengikuti (taklid) kepada pendapat dan penjelasan para ulama dari pada coba-coba memahami ajaran agama tanpa metode ilmiyah yang benar. Metode ilmiyah inilah yang dipakai oleh para ulama maupun santri dalam memahami ajaran Islam, mengajarkannya ke masyarakat, menulis kitab dan buku, atau berdebat dalam forum-forum bahtsul masail. Kalau ada orang coba-coba menjelaskan Islam tanpa ilmu alias ngarang, pasti dia akan ditertawakan.    

Kelima, asas moderasi (wasatiyyah). Al-Azhar memiliki identitas (al-huwiyyah). Salah satu karakter identitas itu adalah moderasi. Sayangnya saat ini Islam ditampilkan dalam bentuk kekerasan, esktrimitas dan terorisme. Padahal identitas peradaban Islam adalah moderasi. Islam yang sejatinya moderat kini menjadi terlihat kuno, tertinggal, sempit, kaku, berat dan menakutkan. Islamo phobia terjadi di mana-mana karena umat Islam menampikan wajah Islam secara buruk dan kejam.

INAIS mematok visinya sebagai rahmatan lil alamin dengan cirinya yang moderat. Ummat Islam Indonesia dengan mayoritas penganut Ahlussunnah wa-jamaahnya dikenal luas sebagai pelopor Islam tawassuthiyah. Watak moderat itu terbangun di atas prinsip tawassuth (pertengahan), tawazun (keseimbangan), i’tidal (sedang-sedang), dan tasamuh (tenggang rasa, toleransi) yang memang cocok dengan budaya Nusantara yang kosmopolitan. Umat Islam Indonesia selalu menghindarkan diri dari tatharruf (ujung-ekstrim), tasyaddud (memberat-beratkan), dan tasahul (meringgan-ringankan) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam.

Pendiri INAIS menyadari betul bahwa kedalaman ilmu agama berbanding lurus dengan ditemukannya kebenaran. Beragama dengan ilmu akan menghindarkan seseorang terjerumus dalam kegelapan dan kesesatan. Maka citra ideal lulusan INAIS adalah seorang muslim yang alim, solih, wirausahawan dan berbudaya. Mengapa harus wirausaha? Sebab, kekuatan ekonomi menjadi batu loncatan bagi naiknya tingkat peradaban dan kebudayaan umat Islam. Mengapa harus berbudaya? Sebab modal budaya Nusantara akan melengkapi keindahan Islam. Di bumi Gunung Menyan, sosok sembilan ulama-da’i “Wali Songo” menjadi contoh teladan. Mengapa? Mereka mendalami ilmu agama, menguasai strategi dakwah, mendalami kebudayaan Nusantara, mengakrabi kesenian, menguasai ilmu dagang sekaligus terampil dalam berpolitik.  Itulah sebabnya Wali Songo sukses mengislamkan Nusantara. Santri dan mahasiswa INAIS yang sukses dalam citra ideal pendirinya, Prof. Dr. H. Sukamdani Sahid Gitosarjono, adalah pribadi mukmin yang soleh sekaligus warga negara yang mandiri dan memiliki wawasan nasionalisme yang kuat. Lahu Al-fatihah…

Hadis Mengangkat Tangan Ketika Sholat (Oleh : Ust. H. Miftakhul Anwar B.Sh., MA.) Dosen Institut Agama Islam Sahid Bogor

Hadis yang menerangkan mengangkat tangan dalam sholat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan telinga dan Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan pundak. Banyak hadis shohih yang menerangkan dua cara tersebut, sebagian ulama’ mengambil salah satu cara dari hadis dan ada pula yang mengkompromikan kedua jenis hadis agar tidak ada hadis yang ditinggalkan.

A- Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan telinga. diantaraya adalah :

1- Hadis riwayat Imam Muslim
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ. رواه مسلم
Artinya : Dari Malik bin al-huwairist bahwasnya Rosulullah SAW. Ketika bertakbir (mengawali sholat) mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telinganya, ketika ruku’ mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telingny, dan ketika bangun dari ruku’ beliau mengucapka “ samiAllahu liman hamidah.” juga melakukan hal seperti itu. (HR. Muslim)
2- Hadis riwayat Muslim
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ: أَنَّهُ ” رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ، – وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ – ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ، ثُمَّ رَفَعَهُمَا، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ، فَلَمَّا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا، سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ
Artinya : Dari wail bin hujr, bahwa ia melihat Nabi SAW. Mengangkat kedua tangnaya ketika masuk sholat dengan bertakbir – hamam menjelaskan Rosulullah mengngkat sampai sejajar kedua telingnya –

3- Hadis riwayat Abu dawud
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: قُلْتُ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي، قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ، ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ. رواه أبي داود
Artinya : Dari wail bin hujr berkata, sungguh saya melihat sholatnya Rosulullah SAW bagaimana beliau sholat. Wail berkata : Rosulullah berdiri kemudian menghadap kiblat dan bertakbir sambil mengangkat kedua tanganyasampai sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Ketka ingin ruku’ beliau mengangkat kedua tanganya seperti saat takbir awal. (HR. Abu Dawud)

4- Hadis riwayat An-nasai
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ، وَإِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ حَتَّى بَلَغَتَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ. رواه النسائي
Artinya : Dari malik bin Al-huwairis berkata, aku melihat Rosulullah SAW. Mengangkat kedua tangannya ketika takbir (awal sholat), ketika ruku’ dan ketika bangun dari Sholat . mangangkat kedua tanganya sampai bagian atas kedua telinga beliau. (HR. An-nasai).
5- Hadis riwayat hakim dan baihaqi
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فَحَاذَى بِإِبْهَامَيْهِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ رَكَعَ حَتَّى اسْتَقَرَّ كُلُّ مَفْصِلٍ مِنْهُ، وَانْحَطَّ بِالتَّكْبِيرِ حَتَّى سَبَقَتْ رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ» . رواه الحاكم والبيهقي. وقال الحاكم : هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.
Artinya : dari Anas ia berkata : aku melihat Rosulullah SAW. Bertakbir (memulai sholat) maka kedua ibu jari beliau sejajar dengan kedua telingnya, kemudian beliau ruku’ sehingga sendi-sendinya tidak bergerak (thuma’ninah) dan turun kebawah dengan takbir sehingga kedua lutunya mendahului kedua tangannya. (HR: Al-hakim dan Al-Baihaqi. Berkata Al-hakim, sanad hadis ini shohih sesuai syarat Imam Al-Bukhori dan Muslim)
Kelima hadis yang menyatakan Rosulullah SAW. mangangkat tanganya sejajar dengan telinga beliau ini derajatnnya Shohih semua

B- Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak, diantaraya adalah :
1- Hadis riwayat Imam Bukhori dan Muslim

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: ” رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ ” رواه البخاري ومسلم
Dari Abdullah bin Umar RA. Berkata : aku melihat Rosulullah SAW. Ketika berdiri didalam sholat mengangkat kedua tanganya sampai sejajar kedua pundaknya. Dan beliau melakukan hal itu ketika takbir untuk ruku’ dan ketika bangun dari ruku’, dan beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah, dan tidak mengangkat kedua tanganya ketika akan sujud. (HR: Bukhori dan muslim)

2- Hadis riwayat Imam Muslim
عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ، وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ، وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ» رواه ومسلم
Dari salim, dari ayahnya (abdullah bin Umar) berkata: aku melihat Rosulullah SAW. Ketika membuka/mengawali sholat beliau mengangkat kedua tanganya sampai sejajar dengan kedua pundaknya, dan beliau melakukan hal itu sebelum ruku’dan ketika bangun dari ruku’, beliau tidak melkukan hal itu diantara dua sujud. (HR Muslim)

3- Hadis riwayat Imam Abu dawud
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ كَبَّرَ وَهُمَا كَذَلِكَ فَيَرْكَعُ، ثُمَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْفَعَ صُلْبَهُ رَفَعَهُمَا حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي السُّجُودِ وَيَرْفَعُهُمَا فِي كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ حَتَّى تَنْقَضِيَ صَلَاتُهُ ” رواه أبو داود.
Artinya : dari Abdullah bin Umar ia berkata, ketika Rosulullah SAW berdiri untuk sholat beliau mengngkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir dengan mengangkat tangan seperti itu juga untuk ruku’, ketika ingin mengangkat tulang rusuknya beliau juga mengngkat kedua tanganya hingga sejajar kedua pundaknya dan mengucapkan : sami’allahu liman hamidah. Beliau tidak mengangkat tanganya ketika sujud dan beliauselalu mengngkat kedua tanganya disetiap takbir sebelum ruku’ sampai selesai sholatnya. (HR. Abu Dawud)
Tiga hadis yang menyatakan Rosulullah SAW. mangangkat tanganya sejajar dengan pundak beliau ini derajatnnya Shohih semua.
Dalam memahami hadis-hadis diatas Ulama’ berbeda pendapat
1- Menurut madzhab Maliki mengangkat kedua tangan sampai kedua pundak
2- Menurut madzhab Syafi’i mengangkat kedua tangan sampai pundak, yang berarti pergelangan tangan sejajar dengan pundak, jari-jari sejajar dengan telinga bagian atas dan Ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitab majmu’ dan Ibnu hajar dalam Tuhfatul Muhtaj.
3- Menurut madzhab hambali boleh memilih kedua cara tersebut
4- Menurut madzhab hanafi bagi laki-laki mengngkat tangan dengan jari-jari sejajar dengan telinga seperti madzhab syafi’i, dan bagi perempuan mengangkat tangan sejajar dengan pundak karena lebih menutup aurat bagi wanita.

KESIMPULAN

Masalah cara mengangkat tangan ini adalah masalah khilafiyah diantara para Ulama’ yang semuanya berdasarkan hadis Rosulullah SAW. Sedangkan praktek yang dilakukan masyarakat Indonesia adalah sesuai adzhab Imam Syafi’i yaitu mengangkat kedua tangan sampai kedua pundak, yang berarti pergelangan tangan sejajar dengan pundak, jari-jari sejajar dengan telinga bagian atas dan Ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah, Sehingga praktek itu tidak perlu di permasalahakan karena berdasarkan dalil yang shohih, bahkan jangan sampai membuat fitnah dikalangan masyarkat indonesia yang sekiranya tidak mengetahui masalah khilaf dengan melakukan carayang tidak lazimdimasyarakat setempat, kecuali yakin tidak menimbulkan fitnah perselilsihan.

Referensi :

1- Shohih Al-Bukhori
2- Shohih Muslim
3- Sunan Abi dawud
4- Sunan An-Nasai
5- Shohih Al-Hakim
6- Sunan Al-Baihaqi
7- Wahbah Az-zuhaili , Fiqhul Islami waadillatuhu
8- Imam Nawawi, Al-majmu’ syarah Muhadz-dzab
9- Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj

Jakarta : 17 Juni 2019Hadis Mengangkat Tangan Ketika Sholat
Oleh : Ust. H. Miftakhul Anwar B.Sh., MA.
Dosen Institut Agama Islam Sahid Bogor

Hadis yang menerangkan mengangkat tangan dalam sholat secara umum terbagi menjadi dua, yaitu Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan telinga dan Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan pundak. Banyak hadis shohih yang menerangkan dua cara tersebut, sebagian ulama’ mengambil salah satu cara dari hadis dan ada pula yang mengkompromikan kedua jenis hadis agar tidak ada hadis yang ditinggalkan.

A- Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan telinga. diantaraya adalah :

1- Hadis riwayat Imam Muslim
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ. رواه مسلم
Artinya : Dari Malik bin al-huwairist bahwasnya Rosulullah SAW. Ketika bertakbir (mengawali sholat) mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telinganya, ketika ruku’ mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telingny, dan ketika bangun dari ruku’ beliau mengucapka “ samiAllahu liman hamidah.” juga melakukan hal seperti itu. (HR. Muslim)
2- Hadis riwayat Muslim
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ: أَنَّهُ ” رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ، – وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ – ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ، ثُمَّ رَفَعَهُمَا، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ، فَلَمَّا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا، سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ
Artinya : Dari wail bin hujr, bahwa ia melihat Nabi SAW. Mengangkat kedua tangnaya ketika masuk sholat dengan bertakbir – hamam menjelaskan Rosulullah mengngkat sampai sejajar kedua telingnya – kemudian beliau merapatkan pakaian beliau, kemudian menaruh tangan kanan beliau diatas tangan kiri (didalam baju beliau yg dirapatkan ). Ketika beliau ingin ruku’ dikeluarkan kedua tanganya dari pakaian tersebut kemudia mengankat kedua tangan beliau kemudian bertakbir kemudian ruku’, ketika beliau mengucapkan ” sami’allahu liman hamidah” beliau mengakat kerua tangan beliau. Ketika beliau sujud sujud diantara kedua telapak tangan.

3- Hadis riwayat Abu dawud
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: قُلْتُ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي، قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ، ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ. رواه أبي داود
Artinya : Dari wail bin hujr berkata, sungguh saya melihat sholatnya Rosulullah SAW bagaimana beliau sholat. Wail berkata : Rosulullah berdiri kemudian menghadap kiblat dan bertakbir sambil mengangkat kedua tanganyasampai sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian beliau memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Ketka ingin ruku’ beliau mengangkat kedua tanganya seperti saat takbir awal. (HR. Abu Dawud)

4- Hadis riwayat An-nasai
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ، وَإِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ حَتَّى بَلَغَتَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ. رواه النسائي
Artinya : Dari malik bin Al-huwairis berkata, aku melihat Rosulullah SAW. Mengangkat kedua tangannya ketika takbir (awal sholat), ketika ruku’ dan ketika bangun dari Sholat . mangangkat kedua tanganya sampai bagian atas kedua telinga beliau. (HR. An-nasai).
5- Hadis riwayat hakim dan baihaqi
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فَحَاذَى بِإِبْهَامَيْهِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ رَكَعَ حَتَّى اسْتَقَرَّ كُلُّ مَفْصِلٍ مِنْهُ، وَانْحَطَّ بِالتَّكْبِيرِ حَتَّى سَبَقَتْ رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ» . رواه الحاكم والبيهقي. وقال الحاكم : هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.
Artinya : dari Anas ia berkata : aku melihat Rosulullah SAW. Bertakbir (memulai sholat) maka kedua ibu jari beliau sejajar dengan kedua telingnya, kemudian beliau ruku’ sehingga sendi-sendinya tidak bergerak (thuma’ninah) dan turun kebawah dengan takbir sehingga kedua lutunya mendahului kedua tangannya. (HR: Al-hakim dan Al-Baihaqi. Berkata Al-hakim, sanad hadis ini shohih sesuai syarat Imam Al-Bukhori dan Muslim)
Kelima hadis yang menyatakan Rosulullah SAW. mangangkat tanganya sejajar dengan telinga beliau ini derajatnnya Shohih semua.

B- Hadis yang menerangkan mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak, diantaranya adalah :
1- Hadis riwayat Imam Bukhori dan Muslim

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: ” رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ ” رواه البخاري ومسلم
Dari Abdullah bin Umar RA. Berkata : aku melihat Rosulullah SAW. Ketika berdiri didalam sholat mengangkat kedua tanganya sampai sejajar kedua pundaknya. Dan beliau melakukan hal itu ketika takbir untuk ruku’ dan ketika bangun dari ruku’, dan beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah, dan tidak mengangkat kedua tanganya ketika akan sujud. (HR: Bukhori dan muslim)

2- Hadis riwayat Imam Muslim
عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ، وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ، وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ» رواه ومسلم
Dari salim, dari ayahnya (abdullah bin Umar) berkata: aku melihat Rosulullah SAW. Ketika membuka/mengawali sholat beliau mengangkat kedua tanganya sampai sejajar dengan kedua pundaknya, dan beliau melakukan hal itu sebelum ruku’dan ketika bangun dari ruku’, beliau tidak melkukan hal itu diantara dua sujud. (HR Muslim)

3- Hadis riwayat Imam Abu dawud
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ كَبَّرَ وَهُمَا كَذَلِكَ فَيَرْكَعُ، ثُمَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْفَعَ صُلْبَهُ رَفَعَهُمَا حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي السُّجُودِ وَيَرْفَعُهُمَا فِي كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ حَتَّى تَنْقَضِيَ صَلَاتُهُ ” رواه أبو داود.
Artinya : dari Abdullah bin Umar ia berkata, ketika Rosulullah SAW berdiri untuk sholat beliau mengngkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir dengan mengangkat tangan seperti itu juga untuk ruku’, ketika ingin mengangkat tulang rusuknya beliau juga mengngkat kedua tanganya hingga sejajar kedua pundaknya dan mengucapkan : sami’allahu liman hamidah. Beliau tidak mengangkat tanganya ketika sujud dan beliauselalu mengngkat kedua tanganya disetiap takbir sebelum ruku’ sampai selesai sholatnya. (HR. Abu Dawud)
Tiga hadis yang menyatakan Rosulullah SAW. mangangkat tanganya sejajar dengan pundak beliau ini derajatnnya Shohih semua.
Dalam memahami hadis-hadis diatas Ulama’ berbeda pendapat
1- Menurut madzhab Maliki mengangkat kedua tangan sampai kedua pundak
2- Menurut madzhab Syafi’i mengangkat kedua tangan sampai pundak, yang berarti pergelangan tangan sejajar dengan pundak, jari-jari sejajar dengan telinga bagian atas dan Ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitab majmu’ dan Ibnu hajar dalam Tuhfatul Muhtaj.
3- Menurut madzhab hambali boleh memilih kedua cara tersebut
4- Menurut madzhab hanafi bagi laki-laki mengangkat tangan dengan jari-jari sejajar dengan telinga seperti madzhab syafi’i, dan bagi perempuan mengangkat tangan sejajar dengan pundak karena lebih menutup aurat bagi wanita.

KESIMPULAN

Masalah cara mengangkat tangan ini adalah masalah khilafiyah diantara para Ulama’ yang semuanya berdasarkan hadis Rosulullah SAW. Sedangkan praktek yang dilakukan masyarakat Indonesia adalah sesuai adzhab Imam Syafi’i yaitu mengangkat kedua tangan sampai kedua pundak, yang berarti pergelangan tangan sejajar dengan pundak, jari-jari sejajar dengan telinga bagian atas dan Ibu jari sejajar dengan telinga bagian bawah, Sehingga praktek itu tidak perlu di permasalahakan karena berdasarkan dalil yang shohih, bahkan jangan sampai membuat fitnah dikalangan masyarkat indonesia yang sekiranya tidak mengetahui masalah khilaf dengan melakukan carayang tidak lazim dimasyarakat setempat, kecuali yakin tidak menimbulkan fitnah atau perselilsihan.

Referensi :

1- Shohih Al-Bukhori
2- Shohih Muslim
3- Sunan Abi dawud
4- Sunan An-Nasai
5- Shohih Al-Hakim
6- Sunan Al-Baihaqi
7- Wahbah Az-zuhaili , Fiqhul Islami waadillatuhu
8- Imam Nawawi, Al-majmu’ syarah Muhadz-dzab
9- Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj

Jakarta : 17 Juni 2019

Benarkah Jodoh, Rezeki, Kematian dan Perceraian adalah Takdir? (Oleh: Abd Misno Mohd Djahri)

Salah satu dari perkataan yang umum di masyarakat adalah bahwa jodoh, rezeki, ajal (kematian) dan perceraian adalah takdir dari Allah Ta’ala, benarkah demikian? Jawabannya adalah Ya, betul sekali bahwa semua itu adalah merupakan takdir dari Allah Ta’ala. Akan tetapi keempatnya memiliki karakter masing-masing, yang apabila kita rinci terbagi menjadi dua; Pertama; Rezeki dan Kematian, Kedua; Jodoh dan Perceraian. Permasalahan ini sangat penting untuk dibahas karena terkait dengan Qadha dan Qadar yang masuk ke ranah tauhid atau keyakinan sebagai seorang muslim. Selain itu jangan sampai kita masuk ke dalam aliran Jabariah yang menganggap bahwa manusia hanya seperti wayang yang dipaksa mengikuti takdirNya, atau seperti Qadariah yang meyakini semuanya adalah kehendak manusia tanpa campur tangan Allah Ta’ala.

Beriman dengan Qadha dan Qadar
Dasar keimanan terhadap qadha dan qadar adalah firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, yaitu firmanNya:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. QS. Al-Hijr: 21.
Pada ayat yang lainnya disebutkan:
وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا
“Dan ini perkara yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 21).
Riwayat shahih mengenai hal ini adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. HR. Muslim.
Riwayat lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah ta’ala ialah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Tuhanku, apa yang harus saya tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takaran (takdir) segala sesuatu hingga hari kiamat.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Merujuk pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan riwayat shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhlukNya. Riwayat lainnya menjelaskan:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.
“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” HR. Muslim, Thirmidzi dan Abu Dawud.
Ada dua istilah yang kemudian dibahas oleh para ulama, yaitu; qadha dan qadar. Keduanya memiliki makna yang berbeda ketika disatukan dalam satu pembahasan (qadha-qadar) apabila dipisah maknanya sama yaitu takdir dari Allah Ta’ala. Secara lebih rinci ada dua pendapat mengenai hal ini;

Pertama, Qadha dan Qadar bermakna Sama.
Mereka menyatakan bahwa makna qadha dan qadar itu sama maknanya yaitu ketentuan dari Allah Ta’ala sejak zaman dahulu kala. Pendapat ini dipegang oleh Abdul Aziz bin Abdullah yang menyatakan:
القضاء والقدر، هو شيء واحد، الشيء الذي قضاه الله سابقاً ، وقدره سابقاً، يقال لهذا القضاء ، ويقال له القدر
Qadha dan qadar adalah dua kata yang artinya samya, aitu sesuatu yang telah Allah qadha’-kan (tetapkan) dulu, dan yang telah Allah takdirkan dulu. Bisa disebut qadha, bisa disebut taqdir.
Persamaaan makna ini sebagaimana tercatat dalam al-Qamus al-Muhith, yaitu;
القدر : القضاء والحكم
Qadar adalah qadha dan hukum.
Merujuk kepada pendapat ini maka tidak ada perbedaan makna antara qadha dan qadar yaitu ketetapan dari Allah Ta’ala sejak zaman azali.

Kedua, Berbeda makna antara Qadha dan Qadar.
Pendapat ini memiliki dua pendapat yang berbeda pula, yaitu;

  1. Qadha lebih dahulu dari pada qadar. Qadha adalah ketetapan Allah di zaman azali. Sementara qadar adalah ketetapan Allah untuk apapun yang saat ini sedang terjadi. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
    قال العلماء : القضاء هو الحكم الكلي الإجمالي في الأزل ، والقدر جزئيات ذلك الحكم وتفاصيله
    Para ulama mengatakan, al-qadha adalah ketetapan global secara keseluruhan di zaman azali. Sementara qadar adalah bagian-bagian dan rincian dari ketetapan global itu. (Fathul Bari, 11/477).
    Al-Jurjani menyatakan,
    والفرق بين القدر والقضاء : هو أن القضاء وجود جميع الموجودات في اللوح المحفوظ مجتمعة، والقدر وجودها متفرقة في الأعيان بعد حصول شرائطها
    Perbedaan antara qadar dan qadha, bahwa qadha bentuknya ketetapan adanya seluruh makhluk yang tertulis di al-Lauh al-Mahfudz secara global. Sementara qadar adalah ketetapan adanya makhluk tertentu, setelah terpenuhi syarat-syaratnya. (at-Ta’rifat, hlm. 174)
  2. Kebalikan dari pendapat sebelumnya, qadar lebih dahulu dari pada qadha. Qadar adalah ketetapan Allah di zaman azali. Sementara qadha adalah penciptaan Allah untuk apapun yang saat ini sedang terjadi.
    Ar-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (hlm. 675) menyatakan,
    والقضاء من الله تعالى أخص من القدر؛ لأنه الفصل بين التقدير، فالقدر هو التقدير، والقضاء هو الفصل والقطع
    Qadha Allah lebih khusus dibandingkan qadar. Karena qadha adalah ketetapan diantara taqdir (ketetapan). Qadar itu taqdir, sementara qadha adalah keputusan.
    Pendapat ini dipegang pula oleh Muhammad bin Shaleh yang menyatakan “Maka ketika Allah menetapkan sesuatu akan terjadi pada waktunya, ketentuan ini disebut Qadar. Kemudian ketika telah tiba waktu yang telah ditetapkan pada sesuatu tersebut, ketentuan tersebut disebut Qadha’”.
    Ulama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa makna qadha dan qadar itu berbeda. Syekh M. Nawawi Banten menyatakan:
    اختلفوا في معنى القضاء والقدر فالقضاء عند الأشاعرة إرادة الله الأشياء في الأزل على ما هي عليه في غير الأزل والقدر عندهم إيجاد الله الأشياء على قدر مخصوص على وفق الإرادة
    “Ulama tauhid atau mutakallimin berbeda pendapat perihal makna qadha dan qadar. Qadha menurut ulama Asy’ariyyah adalah kehendak Allah atas sesuatu pada azali untuk sebuah ‘realitas’ pada saat sesuatu di luar azali kelak. Sementara qadar menurut mereka adalah penciptaan (realisasi) Allah atas sesuatu pada kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya pada azali,” (Kasyifatus Saja, hal. 12).
    Beliau memberikan contoh qadha dan qadar menurut kelompok Asyariyyah, Qadha adalah putusan Allah pada azali bahwa kelak kita akan menjadi apa. Sementara qadar adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.
    فإرادة الله المتعلقة أزلا بأنك تصير عالما قضاء وإيجاد العلم فيك بعد وجودك على وفق الإرادة قدر
    “Kehendak Allah yang berkaitan pada azali, misalnya kau kelak menjadi orang alim atau berpengetahuan adalah qadha. Sementara penciptaan ilmu di dalam dirimu setelah ujudmu hadir di dunia sesuai dengan kehendak-Nya pada azali adalah qadar,” (Kasyifatus Saja, 12).
    Sedangkan bagi kelompok Maturidiyyah, qadha dipahami sebagai penciptaan Allah atas sesuatu disertai penyempurnaan sesuai ilmu-Nya. Dengan kata lain, qadha adalah batasan yang Allah buat pada azali atas setiap makhluk dengan batasan yang ada pada semua makhluk itu seperti baik, buruk, memberi manfaat, menyebabkan mudarat, dan seterusnya.
    وقول الأشاعرة هو المشهور وعلى كل فالقضاء قديم والقدر حادث بخلاف قول الماتريدية وقيل كل منهما بمعنى إرادته تعالى
    “Pandangan ulama Asy’ariyyah cukup masyhur. Atas setiap pandangan itu, yang jelas qadha itu qadim (dulu tanpa awal). Sementara qadar itu hadits (baru). Pandangan ini berbeda dengan pandangan ulama Maturidiyyah. Ada ulama berkata bahwa qadha dan qadar adalah pengertian dari kehendak-Nya,” (Kasyifatus Saja, hal. 12).
    Merujuk pada berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa qadha dan qadar adalah takdir dan ketetapan dari Allah Ta’ala. Pada dasarnya ia bersifat azali sejak penciptaan Qalam (pena) yang telah dititahkan oleh Allah Ta’ala untuk menuliskan takdir semesta. Ketetapan ini tidaklah meniadakan adanya usaha dari ikhtiar manusia, dengan kata lain takdir dari Allah Ta’ala terkait dengan usaha maksimal dari manusia.

Iman dengan Takdir: Rezeki dan Kematian
Kembali pada pembahasan di awal, bahwa rizki dan ajal merupakan takdir dari Allah Ta’ala, maka tidak bisa seorangpun untuk menolaknya. Terkait dengan rizki Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24).
Pada ayat yang lainnya Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71).
Merujuk pada ayat-ayat ini maka jelas sekali bahwa rizki dari Allah Ta’ala sudah ditetapkan, namun demikian manusia memiliki usaha untuk menjemput rizki tersebut. Semakin dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjemput rizki tersebut maka ia akan mendapatkan apa yang dia usahakan. Sehingga jika ada orang yang mengatakan bahwa rizki itu sudah ditentukan, jadi kita tidak perlu usaha maka perkataan ini tidak tepat. Karena perintah untuk berikhtiar sendiri sangat jelas, seperti dalam firmaNya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. QS. Al-Mulk:15.
Pada ayat yang lainnya juga disebutkan secara jelas:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. QS. Al-Jumu’ah: 10.
Merujuk pada pemahaman dari ayat ini adalah bahwa, rizki itu sudah ditetapkan Allah Ta’ala akan tetapi manusia juga diperintahkan untuk mencarinya, menjemputnya dan mendapatkan rizki yang halal.
Adapun berkaitan dengan ajal maka Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
Selain dua ayat ini, banyak sekali ayat dan juga hadits yang menunjukan bahwa ajal atau kematian itu sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala waktu dan tempatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya”. HR. Bukhari dan Muslim.
Sebagaimana berkaitan dengan rizki yang sudah ditentukan maka ajal atau kematian juga sudah ditentukan. Namun ia tidak meniadakan ikhtiar manusia, maksudnya dalam konteks kematian jika ada orang yang buhun diri kemudia dia beralasan bahwa itu adalah takdir maka bisa dikatakan bahwa ketika seseorang bunuh diri dan meninggal dunia maka itu adalah takdir. Tetapi ia berdosa karena telah membunuh dirinya sendiri, sehingga ia akan disiksa di neraka, sebagaimana ayat dan juga sabda Nabi yang mulia:
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).
من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat”. HR. Bukhari dan Muslim.
Ayat dan hadits ini menunjukan larangan untuk bunuh diri serta ancaman bagi yang melakukannya. Walaupun mati adalah takdir, tetapi manusia memiliki kontrisbusi (kehendak) dalam prosesnya. Kehendak inilah yang kemudian menjadi sebab ia mendapatkan siksa.

Iman dengan Takdir: Jodoh dan Perceraian.
Berikutnya terkait dengan jodoh dan perceraian, bahwa keduanya adalah merupakan takdir dari Allah Ta’ala. Jodoh seseorang sudah ditentukan, sebagaimana firmanNya:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). QS. An-Nur: 26.
Ayat ini berbicara secara umum bahwa manusia itu diciptakan secara berpasang-pasangan , sebagaimana firmanNya:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59). Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan,
جميع المخلوقات أزواج: سماء وأرض، وليل ونهار، وشمس وقمر، وبر وبحر، وضياء وظلام، وإيمان وكفر، وموت وحياة، وشقاء وسعادة، وجنة ونار، حتى الحيوانات [جن وإنس، ذكور وإناث] والنباتات
“Setiap makhluk itu berpasang-pasangan. Ada matahari dan bumi. Ada malam dan ada siang. Ada matahari dan ada rembulan. Ada daratan dan ada lautan. Ada terang dan ada gelap. Ada iman dan ada kafir. Ada kematian dan ada kehidupan. Ada kesengsaraan dan ada kebahagiaan. Ada surga dan ada neraka. Sampai pada hewan pun terdapat demikian. Ada juga jin dan ada manusia. Ada laki-laki dan ada perempuan. Ada pula berpasang-pasangan pada tanaman.”
Jika ada seseorang yang ternyata tidak menikah hingga meninggal dunia maka bukan berarti ia tidak ada pasangan. Adanya unsur kehendak dalam dirinya untuk tidak menikah atau hal lainnya yang menjadikan ia tidak berjumpa dengan pasangannya. Intinya adalah bahwa jodoh itu sudah takdir, namun manusia juga memiliki kehendakn untuk mencarinya dan menentukannya. Jika seseorang telah berusaha untuk mencari pasangan kemudian hingga menikah maka itulah jodohnya. Jika ternyata kemudian ia bercerai dan menikah dengan orang lain maka itupun takdirNya juga.
Perceraian sebagai takdir dari Allah Ta’ala juga merupakan ketetapan yang sudah pasti adanya. Namun ia juga tidak lepas dari kehendak dari manusia, kehidupan keluarga yang penuh dengan romantika; suka dan duka silih berganti, gelombang dan prahara rumah tangga yang sering menerjang terkadang berakhir dengan perceraian. Perceraian itu takdir ketika sudah terjadi, tetapi manusia memiliki kehendak untuk melakukannya atau bersabar dan tetap mempertahankan keluarganya.

Kesimpulan:
Pembahasan mengenai jodoh, rizki, ajal dan perceraian terkait erat dengan tauhid atau keimanan seorang muslim yaitu iman (percaya/yakin) dengan takdir dari Allah Ta’ala. Semua hal di dunia ini sudah ditakdirkan, tetap manusia memiliki kehendak dan ikhtiar. Kaya atau miskin, bahagia atau sengsara, menikah atau tetap sendiri, mempertahankan keluarga atau bercerai semua itu adalah pilihan bagi manusia.
Jika kita menganggap bahwa semua itu sudah menjadi takdirNya dan manusia hanya menjalankannya maka ia terbawa pada pemikiran Jabariyah atau Jabriah yang menganggap bahwa manusia hanya seperti boneka (wayang) yang dipaksa mengikuti takdir dari Allah Ta’ala. Sedangkan bila ia berkeyakinan bahwa manusia memiliki kehendak penuh untuk melakukan segala sesuatu tanpa takdir Allah, maka ia terjebak ke dalam pemikiran Qadariah di mana manusia seolah-olah bebas tanpa kuasa dariNya.
Maka, jalan tengah dari keduanya yang merupakan solusi terbaik adalah pendapat dari Ahlu Sunnah wal Jamaah yang meyakini bahwasanya semua takdir semesta telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak awal mula penciptaan, tetapi manusia memiliki kehendak dan ikhtiar untuk menentukan dan memilih yang yang terbaik baginya. Istilah lainnnya menyatakan “Beralih dari satu takdir ke takdir lainnya”, karena kita tidak tahu yang mana takdir kita. Oleh karena itu tetap yakin dengan takdir Allah Ta’ala dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dan melakukan hal-hal yang baik agar kehidupan kita berakhir dalam kebaikan yaitu di surga sebagai negeri keabadian. Wallahu a’lam, (Menjelang tengah hari di Bogor City, 02 Juli 2020).

Hukum Mengurangi Dana Sumbangan untuk Fakir Miskin dan Anak Yatim (Oleh: Abdurrahman Misno Abu Aisyah)

Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih belum berakhir, dampak dari wabah ini betul-betul terasa oleh seluruh lapisan masyarakat. Pengaruhnya tidak hanya masalah ekonomi dan bisnis yang melambat bahkan cenderung terhenti namun hingga ke tatanan sosial dan budaya. Salah satu dari dampak yang sangat terasa adalah berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat yang semakin sulit khususnya mereka yang kehilangan pekerjaan karena Virus Corona. Jumlah mereka sangat banyak hingga memunculkan orang miskin baru di tengah masyarakat.
Melihat fenomena banyaknya orang-orang yang kehilangan pekerjaan dan tidak bisa lagi berdagang memberikan inisiatif kepada beberapa anggota masyarakat serta pemerintah untuk memberikan bantuan kepada mereka. Maka sejak munyebarnya pandemi ini berbagai lembaga melakukan pengumpulan dana dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Pemerintah juga telah melakukan berbagai program bantuan untuk mengurangi penderitaan masyarakat yang terkena dampak dari wabah ini.
Namun sayangnya, di tengah kepedulian beberapa anggota masyarakat dan pemerintah, masih ada orang-orang yang menggunakan kekuasaan, jabatan, amanah dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan di tengah penderitaan masyarakat. Faktanya berbagai bantuan yang diperuntukan bagi masyarakat yang membutuhkan dijadikan lahan untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Akhirnya bantuan yang seharusnya sampai kepada masyarakat tersebut dikurangi dengan berbagai alasan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Padahal bantuan tersebut adalah amanah yang harus disampaikan kepada mereka yang berhak. Tentu saja ini adalah perbuatan tercela dan berdosa, baik dilihat dari sisi kemanusiaan lebih-lebih dari perspektif agama.
Islam sangat melarang memakan harta orang lain dengan cara yang batil, seperti mencuri, merampok, korupsi dan mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. An-Nisaa: 29 “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. Ayat yang senada bermakna ““Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil…” [Al-Baqarah: 188]. Kedua ayat ini sangat jelas menunjukan bahwa Allah Ta’ala melarang memakan harta orang lain dengan cara yang batil, larangan ini menunjukan keharaman perbuatan tersebut. Sementara hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang melarang memakan harta orang lain dengan cara yang batil adalah sabda beliau “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, tidak dengan main-main tidak pula sungguhan, barangsiapa mengambil tongkat saudaranya hendaklah ia mengembalikannya.” HR. Abu Dawud dan Thirmidzi. Pada riwayat yang lainnya Rasululah sangat tegas bersabda ”Wahai manusia, sesungguhnya akan ada beberapa orang di antara kalian yang mengambil harta Allah dengan cara yang tidak benar. Waspadalah, pada hari kiamat nanti orang-orang seperti itu akan dimasukkan ke dalam neraka.” HR Bukhari.
Ayat dan hadits tersebut sebagai peringatan bagi kita bahwa mengambil, memakan dan menggunakan hak dan harta orang lain secara tidak benar maka merupakan perbuatan haram yang akan memberikan pengaruh negatif tidak hanya di dunia namun juga di akhirat sana.
Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram. HR. Ibn Hibban dalam Shahîhnya. Riwayat lainnya dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya. HR. Tirmidzi.
Tentu saja sebagai seorang muslim dan juga orang tua tidak menginginkan anak cucu kita masuk ke dalam neraka karena makanan yang berasal dari harta yang haram. Demikian juga kita semua ingin masuk ke dalam surga, sebagai negeri abadi yang penuh dengan kenikmatan. Namun, jika daging yang ada dalam jasad kita ternyata berasal dari harta yang haram, maka ia tidak akan pernah masuk ke dalam surga.
Maka orang-orang dan pihak-pihak yang memotong atau mengambil hak dari bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan atau anak yatim dan fakir miskin sejatinya adalah adalah mengambil hak orang lain yang tidak dibenarkan dalam Islam. Bahkan perbuatan ini termasuk mencuri, korupsi dan ghulul yang diharamkan dalam Islam. Sehingga harta tersebut haram untuk digunakannya, ia adalah hak dari para penerima bantuan yang sudah jelas peruntukannya.
Jika masih ada yang beralasan bahwa itu adalah sudah menjadi kebiasaan di masyarakat, maka bisa dijawab sejatinya ini adalah kebiasaan yang diharamkan dalam Islam. Baca kembali ayat-ayat dan hadits Nabi yang mengharamkan perbuatan ini, mengambil hak orang lain yang lebih membutuhkan.
Maka jika mereka masih nekat dengan mengambil hak dari orang-orang yang membutuhkannya apalagi hingga memakannya, maka sejatinya ia sedang makan di dunia ini dan akan merasa lapar di akhirat sana. Ia memakan dan mengonsumsi harta yang haram di dunia, mereka makan dari harta yang diharamkan dalam Islam maka di akhirat sana mereka akan kelaparan bahkan lebih dari itu mereka akan tersiksa dengan makanan haram yang telah dimasukannya di dunia ini.
Mengakhiri tulisan ini marilah bersama kita renungi kalaam Allâh Azza wa Jalla “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” QS. An-Nisaa:10). Maka, bagi anda yang masih mau makan dari harta yang diambil dari bantuan orang-orang yang membutuhkan apalagi di era pandemi Covid-19 ini bersiaplah akan merasakan kelaparan dan siksa yang pedih di akhriat sana… Na’udzubillah min dzalika…