INAIS Hadir Rapat Monitoring dan Evaluasi YWSK

Bogor, Dalam masa pandemi Covid – 19 yang tak kunjung mereda masyarakat dituntut untuk menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan langkah – langkah 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan menggunakan masker.

Yayasan Wakaf Sahid Khusnul Khotimah menyelenggarakan rapat monitoring dan evaluasi bersama jajaran pimpinan Yayasan Sahid Jaya hadir sebagai Ketua Umum YSJ Bp. Dr. Ir. H. Hariyadi B Soekamdani, MM, Dewan Pembina Ibu Hj. Sri Bimastuti Handayani Soekamdani dan Direktur Eksekutif Bp. Drs. H. Ahmad Sadjid Zen, MM, hadir pula dari INAIS yaitu Rektor INAIS Bp. Imdadun Rahmat beserta jajarannya, dari Pondok Pesantren Modern Sahid yaitu Pimpinan Harian Bp. Mohammad Luqman Kasno, S.Pd.I beserta jajaran dengan mentaati protocol kesehatan yang berlaku, Kamis, (22/10/20).

Monitoring dan Evaluasi ini di pimpin langsung oleh Ketua Umum YWSK yaitu Bp. Hariyadi BS yang bertempat di gedung Taman Sahid Jaya dan dihadiri oleh perwakilan lembaga yaitu dari Institute Agama Islam Sahid dan Pondok Pesantren Modern Sahid. Rapat kali ini mendengarkan laporan dari lembaga-lembaga dibawah Yayasan Sahid Jaya yang pertama pelaporan dilakukan oleh Lembaga Pondok Pesantren Modern Sahid membahas tentang optimalisasi pendidikan, pelayanan dan pengembangan Pondok Pesantren sekaligus pelaporan keuangan. Yang kedua Institute Agama Islam Sahid membahas tentang Bisnis Planing INAIS satu tahun kedepan.

INAIS Menyelenggarakan Taaruf Kampus Tahun 2020 Semi Daring

Bogor, Institute Agama Islam Sahid Bogor menyelenggarakan taaruf kampus mahasiswa baru (TAFKA) dilaksanakan semi daring selama dua hari yang bertempat di Bale Edi Raya Sabtu, (16/9/20). Hari pertama dilakukan melalui daring yang dihadiri oleh rektor INAIS dan beberapa pejabat struktural. Dalam kesempatan itu rektor memberikan sambutan dan pembekalan tentang ciri dan karakter akademisi, rektor mendorong […]

INAIS MoU dengan IPB

Bogor, Institute Agama Islam Sahid (INAIS) bersepakat menandatangani kerjasa dengan Institute Pertanian Bogor, kerjasama ini diawali dengan pertemuan antar pimpinan lembaga pendidikan di lingkungan Yayasan Sahid Jaya dan Yayasan Sahid Husnul Khotimah yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta Selatan.

Hadir didalam pertemuan pendahuluan itu Dewan Pembina Yayasan, Rektor INAIS, dan Rektor Universitas Sahid, dan dari IPB hadir Rektor IPB Dr. Arif Satria dan Prof. Dr. Rohmin Dahuri Guru Besar IPB. Kerjasama itu kemudian di tindak lanjuti dengan pertemuan lanjutan yang berlangsung di Komplek Kampus INAIS di Adiroso 1 Gunung Menyan Pamijahan Bogor, hadir dalam pertemuan kedua itu Dewan Pembina Yayasan, Rektor INAIS dan Wakil Rektor Bidang Kerjasama dari ITB.

Disepakati ada beberapa poin kerjasama antara dua perguruan tinggi, yang pertama yaitu kerjasama tukar menukar dosen, yang ke dua kerjasama penelitian, yang ke tiga kerjasama pengembangan masyarakat dan peningkatan SDM. Kerjasama ini diharapakan bisa meningkatkan kapasitas kedua belah pihak baik untuk INAIS maupun untuk IPB. Hal lain yang menjadi penekanan adalah bahwa INAIS dan IPB juga akan bekerjasama dalam aspek pengembangan teknologi pertanian dan Agri Eco enterpreneurship yang menjadi ciri perguruan tinggi.

INAIS melakukan KKN dengan cara Daring

Bogor, INAIS melakukan pembekalan dan pelepasan KKN tahun ini dengan mengamalkan protokol kesahatan menggunakan zoom meeting dan dihadiri undangan perwakilan ketua kelompok KKN serta perwakilan mahasiswa dan civitas akademika berjumlah 20 peserta bertempat di ruangan Bale Edi Raya (Sabtu, 29/8/20).

Pembekalan dan pelepasan kuliah kerja nyata (KKN) dari rumah Tahun 2020 dengan tema ” Pengembangan pendidikan komunikasi, dan ekonomi kreatif melalui gerakan desa berdikari dimasa pandemi” peserta KKN akan melaksanakan kerja nyata di 8 desa yang tersebar di 4 kecamatan yaitu di Kecamatan Pamijahan, Kecamatan Cibungbulang, kecamatan Tenjolaya, dan Kecamatn Lewiliang yang akan berlangsung selama 30 hari dilaksanakan mulai 1 September – 1 Oktober 2020 dengan menggunakan metode semi daring dan tetap menaati serta melaksanakan protokol kesehatan.

Pesan yang disampaikan oleh Rektor INAIS Dr. H. Imdadun Rahmat, MA “Ahlakul karimah harus tetap terus dijaga, dan memberikan maslahah kepada masyarakat dan jaga nama baik kampus” selamat kepada peserta KKN untuk terjun dimasyarakat untuk mengaplikasin ilmu yang didapat di perkuliahan.

Dilajutkan penyerahan buku panduan KKN dan jaket KKN oleh bapak Rektor dan civitas akademika kepada perwakilan ketua kelompok KKN.

Kaprodi PIAUD INAIS Pembicara Webinar HOTS

Bogor, INAIS — Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor, Tita Hasanah MSi, menjadi pembicara dalam Webinar “Membangun HOTS (Higher Order Thinking Skills) Bagi Anak Usia Dini”, Sabtu (8/8).

Dalam Webinar yang diadakan oleh Muhammadiyah Mampang Depok bekerjasama dengan Prodi PIAUD INAIS Bogor itu, Tita Hasanah menerangkan tentang pentingnya membiasakan anak usia dini untuk berpikir tingkat tinggi agar anak tidak berperilaku negatif ketika dewasa kelak.

Menurut Tita, anak-anak Indonesia tidak terbiasa diajarkan dengan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) sejak dini. Akibatnya, ketika dewasa mereka tidak bisa berpikir rasional. “Akhirnya ketika dewasa mereka senang tawuran, senang mencontek ketika ujian, gemar menyebar berita bohong (hoax), dan perbuatan tidak terpuji lainnya,” ujar wanita kelahiran 1976 itu.

Apa itu HOTS? Mengutip Resnick (1987), Tita mengatakan HOTS adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar.

Ia menyebutkan, membangun HOTS harus dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan tahapan “mengingat”, “memahami”, dan “menerapkan”, anak-anak mesti diajarkan dengan tahapan selanjutnya yaitu “menganalisis”, “mengevaluasi”, dan “mencipta”. Keenam tahapan ini harus diajarkan kepada anak-anak. Namun, sayang dalam praktik pembelajaran untuk anak usia dini, guru seringkali langsung melompat ke tahap keenam yaitu “mencipta”.

“Di TK, misalnya, anak-anak langsung diajarkan ke tahap keenam ‘mencipta’. Akibatnya, kalau menggambar, mereka meniru atau disuruh gurunya. Bukan dari hasil proses pemahaman, menganalisis atau mengevaluasi,” ujarnya dalam Webinar yang dimoderatori oleh Masyiani Mina Laili SPd MSi itu.

Menurut magister lulusan IPB itu, di sinilah pentingnya membangun komunikasi yang positif antara orangtua atau guru dengan anak.

Menurut Tita ada empat hal yang mempengaruhi HOTS. Pertama, karakteristik orangtua dan guru. “Orangtua dan guru harus mempunyai kompetensi untuk mengajarkan HOTS, tidak hanya sekedar semangat,” tandasnya.

Kedua, gaya pengasuhan. Menurut Tita, orangtua dan guru harus mengembangkan gaya pengasuhan yang lebih otoritatif. “Gaya pengasuhan ini penting untuk mengajarkan HOTS,” terang ibu tiga anak itu.

Ketiga, adanya lingkungan keluarga yang mendukung. Tidak hanya keluarga, HOTS juga membutuhkan lingkungan masyarakat yang mendukung.

Keempat, komunikasi. Membangun HOTS untuk anak usia dini, lanjut Tita, memerlukan komunikasi yang positif antara orangtua atau guru dengan anak. Komunikasi harus berjalan dua arah. “Hilangkan hambatan-hambatan komunikasi antara orangtua atau guru dengan anak. Misal jangan melabel anak-anak dengan sebutan yang negatif,” ujar Tita dalam seminar online melalui aplikasi Zoom yang terkoneksi ke YouTube itu. []

Apa Kata Peserta ‘Secangkir Kopi Webinar PIAUD’

Gunung Menyan – Webinar yang digelar oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Sahid (INAIS), Bogor, mengundang antusiasme para pencari ilmu dari berbagai daerah di Indonesia. Khususnya para guru PAUD. Mereka merasa bersyukur bisa mengikuti webinar melalui aplikasi Zoom yang terhubung ke Youtube itu.
Webinar bertajuk “Secangkir Kopi Webinar PIAUD” ini diadakan dalam empat putaran pada tanggal 8, 11, 15, dan 18 Juli 2020. Berikut beberapa komentar mereka yang dimuat Redaksi secara utuh.
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh pak. Mohon maaf menganggu waktunya. Perkenalkan saya Askha dari Pendidikan Anak Al-Amanah Kota Bandung. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak dan panitia yang menyelenggarakan webinar yang sungguh bermanfaat untuk kami yang membutuhkan referensi pembelajaran di dunia PAUD. Semoga menjadi amal jariyah buat bapak dan panitia yang lain pak, aamiin.
Materi hari ini saya banyak mendapat ilmu ilmu yang belum aku pahami sekarang sudah pahami mudah 2han dng ada materi hari ini dan bisa berlanjut materinya lagi. (Rahmatia, rahmatiatia818@gmail.com)
Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan INAIS .banyak sekali materi yang disampaikan dan sangat membantu kami.muda mudahan masih ada materi selanjutnya. (Rahmatia, rahmatiatia818@gmail.com)
Dengan ada nya webiner ini sangat memberi kami pencerahan sebagai guru paud di daerah .kalau bisa waktu pembelajaran nya di tambah lagi.dan semoga selalu ada link YouTube nya .karena aplikasi zoom terlalu besar di hp kami yg murah.terima kasih. (Teti Fatimah, Syakiraqotrunnada591@gmail.com)
Materi yg d berikan sangat bagus dan bermanfaat. (IFANA GUSTI HANDAYANI, ivanaguatihandayani@gmail.com). [Rus]

Program Pascasarjana INAIS Bogor dan SAMARA Institute menggelar Webinar Pengelolaan Keuangan Keluarga

Keluarga adalah satuan terkecil di masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Setiap dari anggota keluarga mendambakan keluarga yang bahagia dan sejahtera, terpenuhi semua kebutuhannya dan berjalan hingga akhir hayatnya. Namun, terkadang harapan membina keluarga sakinah, mawadah wa rahmah tinggal harapan. Banyak perselisihan yang terjadi dalam rumah tangga laksana bahtera yang terombang-ambing oleh badai dan gelombang, jika nahkoda dalam hal ini suami tidak mampu lagi mengemudikannya bahkan bisa jadi bahtera itu akan tenggelam. Maka perceraian menjadi jalan yang ditempuh oleh mereka. 

Seiring perkembangan zaman, ternyata jumlah perceraian di Indonesia khususnya dan di dunia terus meningkat. Data di Mahkamah Agunug Republik Indonesia yang membawahi Pengadilan Agama menctata bahwa jumlah perceraian setiap tahun terus meningkat. Tentu banyak hal yang  yang menjadi penyebab dari perceraian ini, dari mulai permasalahan pribadi pasangan, masalah keluarga besar, masalah kepribadian, adanya orang ketiga hingga masalah ekonomi yang mereka hadapi. Riset yang mengkaji mengenai penyebab terjadinya perceraian menunjukan bahwa 28.2 % adalah masalah ekonomi. Maknanya bahwa masalah ekonomi dan keuangan menjadi sebab utama perceraian. Oleh karena itu perlu adanya perencanaan dan pemahaman mengenai ekonomi dan keuangan keluarga.

Program Pascasarjana INAIS Bogor bekerjasaman dengan SAMARA Instutute sebagai konsultan Keluarga Sakinah Nasional mengadakan webinar dengan tema “Pengelolaan Keuangan Keluarga Islami”. Ternyata di luar dugaan, acara webinar ini banyak diminati oleh seluruh lapisan masyarakat. Pesertanya dari mulai Aceh sampai Papua, dari yang belum menikah sampai yang sudah puluhan tahun menikah. Ust. Nurhadi, S.Sos.I., MH dalam materinya menyatakan bahwa pertengkaran karena masalah keuangan dan ekonomi keluarga menjadi masalah terbanyak dalam kasus perceriana, sehingga memahami pengelolaan keuangan keluarga adalah mutlak untuk dilakukan oleh suami dan istri. Sementara Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI sebagai pembicara sekaligus Direktur Program Pascasarjana INAIS Bogor mengungkapkan bahwa pengelolaan keuangan keluarga dapat dilakukan oleh semua orang, namun hal yang menjadikannya berhasil adalah sikap disiplin dan konsisten dalam mengelola keuangan tersebut. Ia juga menambahkan selama ini ketika seseorang menerima gaji yang pertama dilakukan adalah mengambilnya untuk kebutuhan maka dan konsumsi, padahal seharusnya setelah menerima gaji atau pendapatan lainnya hal yang harus langsung disisihkan adalah untuk menabung (saving), hal ini untuk keadaan darurat. Kenapa konsumsi di belakang, karena makan dan konsumsi masih bisa menyesuaikan dengan sisa budget yang ada. Beliau juga menambahkan jika harta dan keuangan kita ingin berkah maka jangan lupa untuk membayar zakat, berinfak dan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkannya. .ambp.

Prodi PIAUD INAIS Gelar Webinar Strategi Pembelajaran PAUD di Masa Pandemi

Gunung Menyan – Di era pandemi seperti sekarang ini, mau tidak mau seorang guru, termasuk guru PAUD, harus mengerti dan menguasai teknologi digital. “Dengan teknologi digital guru bisa menyampaikan materi pembelajaran dengan menyenangkan,” kata M Taufiq Aziz MPdI, dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Sahid (INAIS), Bogor.
Peneliti pendidikan Islam ini mengatakan hal itu dalam webinar “Strategi Pembelajaran PAUD di Masa Pandemi” yang diselenggarakan oleh Prodi PIAUD INAIS Bogor, Sabtu (11/7). Acara ini merupakan putaran kedua webinar empat putaran bertajuk “Secangkir Kopi Webinar PIAUD”.
Menurut Taufiq, era digitalisasi tidak bisa dihindari, bahkan justru makin dipercepat dengan adanya pandemi. “Maka strategi pembelajaran era digital adalah sesuatu yang pasti disiapkan oleh guru yang siap berprestasi dan tersertifikasi,” paparnya.
Mengutip Hadis Riwayat Imam Bukhari “Mudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kamu membuat mereka lari”, Taufiq mengatakan guru PAUD harus mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan mengesankan bagi peserta didik.
Selain Taufiq, webinar ini juga menghadirkan Nurul Istiana MSi, praktisi pendidikan anak usia dini, sebagai pembicara.
Nurul menyebutkan, di era pandemi guru PAUD harus kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran. Ketika orangtua di rumah tidak bisa menggunakan aplikasi Zoom atau video call, misalnya, guru harus bisa menyampaikan materi pembelajaran dengan cara lain. Misalnya dengan melakukan home visit, mengunjungi rumah orangtua siswa untuk menyampaikan materi pembelajaran.
“Antarkan lembar kerja ke rumah siswa, dua pekan kemudian datang lagi untuk mengambil pekerjaan siswa sehingga kita bisa melakukan penilaian,” ujar dosen Universitas Terbuka itu.
Ia menambahkan, di era pandemi yang mengharuskan siswa belajar dari rumah (BDR), guru bisa menggabungkan sistem pembelajaran online dangan offline.
Menurut Nurul, guru harus mau belajar dan terus belajar agar bisa menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan menyenangkan. “Jangan hanya memberikan tugas kepada siswa yang merepotkan orangtua di rumah,” katanya dalam webinar yang dimoderatori oleh Masyiani Mina Laili SPd MSi, dosen PIAUD INAIS.
Seminar online dengan aplikasi Zoom yang terhubung ke Youtube ini diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari berbagai kota di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. [Rusdiono MPd]

Secangkir Kopi Webinar PIAUD: Kurikulum PAUD sebagai Panduan Merdeka Belajar

Gunung Menyan – Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor menggelar webinar “Kurikulum PAUD sebagai Panduan Merdeka Belajar”, Rabu (8/7). Acara ini merupakan putaran pertama dari empat webinar bertajuk “Secangkir Kopi Webinar PIAUD”.
Webinar yang dimoderatori oleh Masyiani Mina Laili SPd MSi, dosen PIAUD INAIS, ini menghadirkan pembicara Dr A Abbas Arby MHum (peneliti bidang PAUD dan dosen INAIS) dan Tita Hasanah MSi (Ketua Prodi PIAUD INAIS).
“Kurikulum PAUD harus bisa mengantarkan anak-anak mengenal siapa penciptanya,” ujar Abbas Arby yang tampil pada kesempatan pertama.
Menurutnya, anak-anak usia dini harus diperkenalkan dengan nama-nama yang ada di lingkungan sekitar. “Sebagaimana Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam,” papar Abbas mengutip firman Allah dalam al-Baqarah ayat 31.
Sementara itu pembicara kedua, Tita Hasanah, menyebutkan pemerintah sudah menyediakan seperangkat kurikulum untuk menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan pembelajaran di satuan PAUD. Namun dalam praktiknya, ada lembaga PAUD yang menyelenggarakan pendidikan tanpa menggunakan kurikulum.
Di masa pandemi inipun, lanjut Tita, pemerintah sudah mengeluarkan panduan pembelajaran jarak jauh bagi guru selama sekolah tutup dan pandemi Covid-19 dengan semangat Merdeka Belajar. Dalam panduan disebutkan, Belajar dari Rumah (BDR) melalui pembelajaraan jarak jauh dimaksudkan untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum kenaikan kelas maupun kelulusan. “Yang penting anak-anak bisa belajar, jangan dibebani untuk menuntaskan materi,” katanya dalam webinar dengan aplikasi zoom yang terhubung ke youtube.
BDR dilaksanakan dengan fokus pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.
Selain itu, guru harus memberikan variasi aktivitas BDR antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing. Termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas BDR. “Guru harus kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Jangan membuat anak bosan belajar di rumah,” terang Tita.
Menurutnya, pembelajaran dari rumah harus mampu memberikan umpan balik terhadap bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru. Tanpa diharuskan memberi skor atau nilai kuantitatif.
Seminar online di masa pandemi ini diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari Bogor dan sekitarnya, peserta antara lain berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. [Rusdiono MPd]

INAIS Gelar Webinar Soal Implementasi New Normal Dalam Dunia Pendidikan Kampus dan Pesantren

Bogor, Pemerintah saat ini tengah mengkaji aturan new normal di sektor dunia pendidikan kampus dan pesantren. Salah satu opsi yang muncul adalah aturan tentang hanya sekolah dan perguruan tinggi di daerah dengan status hijau yang boleh menggelar proses belajar menggajar secara tatap muka. Itupun tetap dengan syarat harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah di tetapkan.

Kampus INAIS menggelar kegiatan webinar dengan tema “Implementasi New Normal Dalam Dunia Pendidikan Kampus dan Pesantren” dengan narasumber Hj. Sri Bimastuti Handayani B. Sukamdani (Dewan Pembina YWSHK), Dr. H. M. Imdadun Rahmat, M. Si (Rektor INAIS), Dr. Mamat S. Burhanuddin ( Ksubdit Pengembangan Akademik Direktoran Jenderal Pendidikan Islam), Maya Sugandi (Praktisi Pendidikan Pesantren dengan keynote Speech Dr. H. Hariadi B. Sukamdani ( Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO)) yyang dilaksanak pada hari Kamis,(18/6/20).

INAIS kini sedang mematangkan dua skenario menghadapi era new normal. Yang pertama adalah blended learning dimana kuliah ini dilakukan secara kombinasi antara tatap muka dan daring. Skenario ini berlaku dengan asumsi pandemic sudah mereda. Mahasiswa akan berada di kampus melanjutkan belajar secara daring untuk kedepannya, selanjutnya dirumah masing masing ujar Rektor INAIS Imdadun Rahmat.

Tetapi jika ternyata pandemi belum mereda, maka mau tidak mau proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan sepenuhnya secara daring. “ Keselamatan dan kesehatan seluruh warga kampus adalah yang paling utama”, tegas Imdadun Rahmat.

Kini tantangannya adalah menyiapkan SDM yang mampu adaptif dalam era seperti new normal. Khusus bagi perguruan tinggi bagaimana dalam mencetak lulusan melibatkan proses pembelajaran yang menitik beratkan pada penggunaan teknologi canggih, namun sekaligus berpusat pada manusia yang mengutamakan proses pendidikan dengan cara interaktif, komunikasi dua arah, kolaboratif dan didasari semangat long life learning, papar S.B. Handayani

Basis-basis pendidikan di Indonesia mulai dari sekolah, universitas, hingga pondok pesantren di tengah wabah corona (Covid-19) tidak hanya mereformasi ulang sistem pembelajaran yang telah ada. Namun juga harus memulai kembali dengan berbagai skenario terbaru dan juga dipaksa untuk beradaptasi. Jika skenario kenormalan baru (new normal) benar-benar diberlakukan oleh pemerintah, dampaknya tidak hanya terjadi di ranah pendidikan formal seperti sekolah negeri dan perguruan tinggi, tetapi juga pendidikan di pesantren.

Posisi pendidikan di pesantren sebagai lembaga non-formal dan klasikal memang harus diperhatikan oleh pemerintah terutama di masa pandemi corona seperti sekarang ini. Sebab kontribusi pesantren dalam bingkai pembangunan bangsa dan negara tidak bisa dinilai dengan angka. Bahwa pesantren merupakan laboratorium sosial kemasyarakatan. Selain untuk memperdalam dan memperkuat pendidikan agama untuk anak, pesantren juga mempunyai misi untuk melatih anak agar hidup mandiri dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan dengan baik sebagai bekal untuk hidup di masyarakat. Maka sangat penting kehadiran Negara dalam mengaplikasikan kenormalan baru serta Koordinasi dan kerjasama antara pemerintah pusat dengan daerah ke depan harus lebih diperkuat ujar Dr. H. Hariyadi.

Reported by: Syarif Zakky Azizi