Manajemen Transparan dan Anti Pungli: Kunci Keberlanjutan Wisata Curug Cidurian dan Curug Cirendeu Selama 8 Tahun

Penulis: KKN-T INAIS Desa Kiarasari

Sukajaya, Bogor – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor Kelompok 03 melaksanakan kegiatan pendataan UMKM sekaligus wawancara bersama Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wisata Curug Cidurian dan Curug Cirendeu, Bapak Anung, pada Kamis, 30 Juli 2026, di Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini bertujuan menggali informasi mengenai perkembangan UMKM dan tata kelola destinasi wisata Curug Cidurian dan Curug Cirendeu sebagai bagian dari upaya mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Selain melakukan pendataan usaha mikro, mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai strategi pengelolaan wisata yang mampu bertahan dan terus berkembang.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Anung menjelaskan bahwa Curug Cidurian mulai dibuka pada Agustus 2018 dan dikelola bersama dengan kawasan Curug Cirendeu di bawah Kelompok Kerja (Pokja) wisata. Pada tahun 2020, operasional wisata sempat dihentikan sementara akibat pandemi Covid-19. Setelah kondisi kembali normal, kedua destinasi wisata tersebut dibuka kembali dan hingga kini tetap menjadi salah satu tujuan wisata alam di Desa Kiarasari.

Menurut Bapak Anung, keberhasilan mempertahankan wisata selama delapan tahun tidak terlepas dari tiga prinsip utama yang selalu diterapkan, yaitu manajemen yang baik, transparansi dalam pengelolaan keuangan, serta komitmen untuk menolak segala bentuk pungutan liar (pungli).

“Kuncinya adalah manajemen yang baik, transparansi, dan jangan sampai ada pungli. Reputasi wisata dibangun dari kerja keras sejak awal sehingga harus dijaga bersama. Penjual juga tidak boleh menaikkan harga secara berlebihan karena dapat merugikan pengunjung. Jika ada yang melanggar, akan kami keluarkan demi menjaga kepercayaan masyarakat,” ujar Bapak Anung.

Beliau menambahkan bahwa setiap kegiatan pengelolaan selalu diawali dengan briefing bersama seluruh anggota Pokja. Seluruh informasi mengenai pengelolaan dan keuangan disampaikan secara terbuka agar tercipta kepercayaan, kekompakan, serta kelancaran dalam menjalankan usaha wisata. Menurutnya, transparansi merupakan fondasi utama yang membuat Curug Cidurian dan Curug Cirendeu tetap bertahan hingga saat ini.

Selain membahas pengelolaan wisata, Bapak Anung juga memperkenalkan potensi UMKM yang pernah berkembang di kawasan wisata, seperti kerajinan kotak tisu, tempat galon Aqua, dan tempat guci. Meskipun saat ini produksinya sedang vakum, masyarakat berkomitmen untuk kembali mengembangkan kerajinan tersebut sebagai produk unggulan yang dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.

Melalui kegiatan pendataan UMKM dan wawancara ini, mahasiswa KKN-T INAIS memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh tata kelola yang profesional, pelayanan yang ramah dan santun, transparansi, serta komitmen untuk bebas dari pungli. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus menjadi landasan dalam pengembangan Curug Cidurian, Curug Cirendeu, dan UMKM lokal di Desa Kiarasari sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Tag Post :
Share This :