
Bogor, 30 Juli 2025 – Sebuah langkah kolaboratif dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan desa resmi dimulai dari Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, melalui program “10.000 Pohon untuk Desa” yang diinisiasi oleh Sinatria Foundation.
Program ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor—melibatkan lembaga masyarakat, pemerintah desa, kelompok tani, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor. Di bawah komando Abdul Reza Maulana, Mahasiswa KKNT Kelompok 1 INAIS, dan dengan dukungan penuh dari Kepala Desa Kalongliud, Jani Nurjaman, gerakan ini difokuskan pada penguatan sektor pertanian, perkebunan, dan pelestarian lingkungan sebagai pilar ekonomi dan ekologi desa.
Puncak Peluncuran dan Komitmen Tani
Momentum peluncuran ditandai dengan penandatanganan **Piagam Kesepakatan Bersama** oleh 50 anggota kelompok tani, yang menyatakan komitmen mendukung dua program strategis: **Perkebunan Masyarakat Desa** dan **Program Kampung Iklim (ProKlim)**.
“Pohon-pohon ini tidak hanya akan tumbuh sebagai peneduh atau penghasil buah, tetapi sebagai penyangga masa depan desa,” ujar Jani Nurjaman.
Bibit Pohon dari Persemaian Modern Rumpin
Bibit pohon yang akan ditanam berasal dari BPDAS Citarum-Ciliwung – Persemaian Modern Rumpin, dengan jenis pohon yang telah disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik desa. Berikut beberapa jenis pohon dan lokasi penanaman:
| Jenis Pohon | Manfaat | Lokasi Penanaman |
|---|---|---|
| Mahoni | Peneduh, konservasi tanah, peredam polusi | Pinggir jalan, kawasan umum |
| Tabebuya Pink | Estetika, edukasi lingkungan | Area taman, jalan desa |
| Jambu Biji | Konsumsi, gizi keluarga, herbal | Pekarangan rumah, kebun warga |
| Durian | Ekonomi tinggi, tanaman khas lokal | Lahan luas, agroforestry |
| Nangka | Konsumsi lokal, pohon multifungsi | Kebun campuran, pekarangan |
| Jengkol | Konsumsi lokal, bernilai pasar | Kebun agroforestry, pekarangan |
| Alpukat | Ekspor, nilai gizi tinggi | Lahan tinggi dan miring |
| Sirsak | Gizi, herbal, olahan pangan | Pinggir jalan kecil, pekarangan |
“Sedekah Oksigen”: Menanam Adalah Menjaga Kehidupan
Saepul Adha dari Sinatria Foundation menegaskan pentingnya kontribusi pohon bagi kehidupan manusia.
> “Sedekah oksigen, menanam satu pohon berarti memberi kehidupan untuk 5 orang. Betapa berharganya oksigen saat seseorang berada di ranjang rumah sakit…”
Ia juga menyampaikan bahwa pohon-pohon yang ditanam hari ini akan memiliki **nilai ekonomi karbon** dalam 10–20 tahun mendatang, yang bisa bernilai hingga miliaran rupiah—menjadi aset penting bagi generasi masa depan.
Visi Ekologis dan Ekonomi
Dalam paparannya, Abdul Reza Maulana (Rezim) menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar gerakan penghijauan, melainkan langkah konkrit untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
> “Kami memilih pohon dengan nilai manfaat tinggi. Tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga sebagai sumber buah unggulan dan potensi agroindustri desa.”
Pohon-pohon seperti mahoni dan tabebuya memberikan dampak estetika dan ekologis, sedangkan **jambu biji, durian, jengkol, sirsak, nangka, dan alpukat menjadi penopang gizi dan ekonomi warga.
Manfaat dan Kajian Program
Program “10.000 Pohon untuk Desa” memiliki dampak multidimensi:
Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga: Meningkatkan asupan gizi lokal dan menekan angka stunting.
Konservasi dan Estetika: Mengurangi polusi, menjaga air tanah, serta memperindah desa.
Ekonomi dan Agroforestri: Memberikan sumber penghasilan baru melalui hasil panen buah dan wisata agroedukatif.
Edukasi dan Literasi Iklim: Diperkuat oleh peran aktif mahasiswa KKN dan pembinaan dari Sinatria Foundation.
Kualitas Bibit Terjamin: Melalui dukungan Persemaian Modern Rumpin, bibit yang ditanam bebas penyakit dan adaptif terhadap kondisi lokal.
Harapan dan Masa Depan Desa Kalongliud
Team KKNT INAIS berharap, program ini dapat menjadi warisan ekologis dan ekonomi berkelanjutan, yang menjadikan Desa Kalongliud sebagai desa hijau, mandiri, dan produktif.
“Program ini adalah cermin gotong royong lintas generasi dan sektor. Desa Kalongliud menjadi pionir gerakan hijau berbasis masyarakat yang menyatukan kekuatan lokal, pendidikan, dan lembaga demi masa depan yang lestari,” tutup Reza Maulana.

